Kamis, 21 April 2016

Manusia Setengah Malaikat…..?

Bahagia dan sedih itu hal biasa.
Bahagia dan sedih akan selalu membersamai langkah hidup anak manusia sampai akhir hayatnya nanti.
Bahagia dan sedih mengajarkan banyak hal kepada manusia. Sehingga hidup pun terasa lebih bermakna dan penuh kenangan.
Ada banyak cerita yang selalu ingin manusia bagi atas hadirnya bahagia dan sedih.  Dari cerita itu manusia mengerti siapa teman sejatinya, mengerti siapa yang paling tulus kepadanya dan mengerti siapa yang hanya memanfaatkannya.
Meskipun jalan keluar tidak selalu datang tetapi bercerita selalu memilki kekuatan ajaib. Saat mulut bercerita tetang sedih saat itulah perlahan sesak dalam dada lenyap,  penat dalam pikiran pun berkurang. Yah…perlu kita pahami bahwa bercerita bukan berarti mendapat solusi. Tetapi bukan berarti bercerita adalah hal yang sia-sia.
Meskipun teman kita tidak bisa memberi solusi tetapi paling tidak kita mendapatkan telinga yang mendengar semua keluhan kita. Kita mendapatkan teman yang turut serta merasakan kesedihan kita.
Maka patutlah kita bersyukur…..karena sebenarnya ada manusia yang tidak bisa bercerita. Terkadang ia merasa seperti tercekik karena  saking banyaknya beban, luka dan kesedihan yang tersimpan dalam dadanya.
Bukan karena manusia itu tidak memiliki teman atau seseorang yang bisa mendengarnya. Tetapi karena manusia itu takut menjadi beban bagi orang-orang terdekatnya. Terlebih bagi orang-orang yang sangat ia cintai.
Meskipun manusia itu sepenuhnya menyadari bahwa dalam hidup saling memikul beban saudaranya, temannya, keluarganya, kekasihnya atau apapun itu adalah hal yang biasa. Sebab itu adalah alasan mengapa kita diciptakan tidak sempurna oleh tuhan. Agar kita saling membantu, bekerjasama dan membutuhkan satu dengan yang lainnya.
Namun pada kenyataannya menerima suratan itu adalah hal yang teramat sulit baginya. Hal terbaik yang bisa ia lakukan saat kesedihan, kebimbangan dan kesakitan menghampirinya adalah dengan menyendiri. Mengadu kepada yang menciptakannya. Membiarkan air matanya mengalir dan ia takkan keluar menemui siapapun sebelum air matanya kering.
Manusia seperti itu tentu seperti malaikat bagi kita. Sebab dalam keadaan sedihpun ia masih memikirkan kebahagiaan kita. Ia tidak mau membagi sedikitpun sedihnya kepada kita karena ia tidak mau menjadi beban. Ia tidak mau senyum ceria dan wajah bersinar kita surut karena kesedihannya. Ia hanya mau membagi kebahagiannya.  Ia hanya mau melihat kita tersenyum bahagia. Hanya itu….
Tapi….bagaimana mungkin manusia bisa hidup seperti itu selamanya. Bagaimana jika kesedihan itu menggunung dan kemudian ia tak sanggup lagi memikulnya? Lalu bagaimana jika kemudian tidak ada lagi yang ia pilih selain putus asa?
Tuhan Allah SWT memang dzat yang lebih dari segalanya. Tidak bisa kita membandingkannya dengan apapun. Teman-temannya, keluarganya, kekasihnya tidak ada artinya jika dibandingkan dengan pertolongan Allah. Tapi mungkinkah seseorang yang sampai akhir hayatnya tidak membutuhkan telinga untuk mendengarkannya?
Atau….
Mungkinkah dibumi ini ada manusia setengah malaikat….?
Memikirkan hal ini terkadang terasa begitu rumit bagiku. Pada satu sisi yang lain aku sangat meyakini bahwa Allah adalah tempat bersadar, tempat mengadu yang lebih dari segalanya. Tetapi pada satu sisi hatiku yang lain aku juga menyakini bahwa manusia satu dengan yang lain saling membutuhkan. Manusia butuh pundak untuk bersadar. Manusia butuh telinga untuk didengar……

Mungkin sebaiknya aku tutup saja kerumitan ini dan aku lanjutkan perjalanan hidup yang penuh misteri ini. Misteri kapan bahagia itu akan datang. Misteri kapan kesedihan itu akan datang…..