Manusia Setengah Malaikat…..?
Bahagia dan sedih itu hal biasa.
Bahagia dan sedih akan selalu membersamai
langkah hidup anak manusia sampai akhir hayatnya nanti.
Bahagia dan sedih mengajarkan
banyak hal kepada manusia. Sehingga hidup pun terasa lebih bermakna dan penuh
kenangan.
Ada banyak cerita yang selalu
ingin manusia bagi atas hadirnya bahagia dan sedih. Dari cerita itu manusia mengerti siapa teman
sejatinya, mengerti siapa yang paling tulus kepadanya dan mengerti siapa yang
hanya memanfaatkannya.
Meskipun jalan keluar tidak
selalu datang tetapi bercerita selalu memilki kekuatan ajaib. Saat mulut
bercerita tetang sedih saat itulah perlahan sesak dalam dada lenyap, penat dalam pikiran pun berkurang. Yah…perlu
kita pahami bahwa bercerita bukan berarti mendapat solusi. Tetapi bukan berarti
bercerita adalah hal yang sia-sia.
Meskipun teman kita tidak bisa memberi
solusi tetapi paling tidak kita mendapatkan telinga yang mendengar semua
keluhan kita. Kita mendapatkan teman yang turut serta merasakan kesedihan kita.
Maka patutlah kita bersyukur…..karena
sebenarnya ada manusia yang tidak bisa bercerita. Terkadang ia merasa seperti
tercekik karena saking banyaknya beban,
luka dan kesedihan yang tersimpan dalam dadanya.
Bukan karena manusia itu tidak
memiliki teman atau seseorang yang bisa mendengarnya. Tetapi karena manusia itu
takut menjadi beban bagi orang-orang terdekatnya. Terlebih bagi orang-orang
yang sangat ia cintai.
Meskipun manusia itu sepenuhnya
menyadari bahwa dalam hidup saling memikul beban saudaranya, temannya,
keluarganya, kekasihnya atau apapun itu adalah hal yang biasa. Sebab itu adalah
alasan mengapa kita diciptakan tidak sempurna oleh tuhan. Agar kita saling
membantu, bekerjasama dan membutuhkan satu dengan yang lainnya.
Namun pada kenyataannya menerima suratan
itu adalah hal yang teramat sulit baginya. Hal terbaik yang bisa ia lakukan
saat kesedihan, kebimbangan dan kesakitan menghampirinya adalah dengan
menyendiri. Mengadu kepada yang menciptakannya. Membiarkan air matanya mengalir
dan ia takkan keluar menemui siapapun sebelum air matanya kering.
Manusia seperti itu tentu seperti
malaikat bagi kita. Sebab dalam keadaan sedihpun ia masih memikirkan
kebahagiaan kita. Ia tidak mau membagi sedikitpun sedihnya kepada kita karena
ia tidak mau menjadi beban. Ia tidak mau senyum ceria dan wajah bersinar kita
surut karena kesedihannya. Ia hanya mau membagi kebahagiannya. Ia hanya mau melihat kita tersenyum bahagia. Hanya
itu….
Tapi….bagaimana mungkin manusia
bisa hidup seperti itu selamanya. Bagaimana jika kesedihan itu menggunung dan
kemudian ia tak sanggup lagi memikulnya? Lalu bagaimana jika kemudian tidak ada
lagi yang ia pilih selain putus asa?
Tuhan Allah SWT memang dzat yang
lebih dari segalanya. Tidak bisa kita membandingkannya dengan apapun. Teman-temannya,
keluarganya, kekasihnya tidak ada artinya jika dibandingkan dengan pertolongan
Allah. Tapi mungkinkah seseorang yang sampai akhir hayatnya tidak membutuhkan telinga
untuk mendengarkannya?
Atau….
Mungkinkah dibumi ini ada manusia
setengah malaikat….?
Memikirkan hal ini terkadang
terasa begitu rumit bagiku. Pada satu sisi yang lain aku sangat meyakini bahwa
Allah adalah tempat bersadar, tempat mengadu yang lebih dari segalanya. Tetapi pada
satu sisi hatiku yang lain aku juga menyakini bahwa manusia satu dengan yang
lain saling membutuhkan. Manusia butuh pundak untuk bersadar. Manusia butuh
telinga untuk didengar……
Mungkin sebaiknya aku tutup saja
kerumitan ini dan aku lanjutkan perjalanan hidup yang penuh misteri ini. Misteri
kapan bahagia itu akan datang. Misteri kapan kesedihan itu akan datang…..