Masalah
seolah menjadi teman dalam keseharianku, sedangkan kesendirian seolah menjadi
pengiring setia dalam setiap detik waktu yang aku lewati. Tidak terasa, begitu
jauh pencapaianku melalui hati yang rapuh dan tak pernah berhenti berharap ini.
Rasa
demi rasa hadir di dalam hati dan tak lupa ia meninggalkan bekas, sebelum
akhirnya lenyap untuk selamanya. Tidak peduli lebih banyak manakah antara bekas
yang menyakitkan dengan bekas yang mengesankan yang tertinggal di hati ini.
Semuanya aku terima, aku nikmati, sebab dari bekas-bekas itulah aku bisa
belajar tentang kehidupan.
Subkhanallah........hampir
enam bulan ini Allah memberiku kesempatan untuk belajar dari sebuah kesempitan
dan kepahitan. Bahkan tak jarang, kesempitan dan kepahitan itu belum berlalu
dari relung hati yang rapuh ini, kesempitan dan kepahitan baru datang.
Aku
coba untuk mensyukurinya, aku coba untuk tetap tersenyum dan berwajah cerah
layakya wajah langit baru di esok hari disetiap hari baru yang tiba.
Tapi......... akhir-akhir ini semua seolah hilang dari diriku. Semangat,
harapan, dan juga kesanggupan diri ini untuk menempuhi jalan Allah yang tak
luput dari cobaan dan godaan.
Mulutku
sering mengeluarkan keluhan, yang pada akhirnya hanya menambah beban dari
kesempitan dan kepahitan yang ada. Otakku mulai sibuk memikirkan keputusasaan
yang pada akhirnya melahirkan kebimbangan. Sungguh semua itu justru membuat
semua ini semakin berat dan sulit untuk dilalui.
Meskipun
di sela-sela keluhan itu terucap istighfar sebagai tanda penyesalan atas lemahnya
jiwa ini, namun masih saja air mata sering kali hadir bersama dengan celotehan
keluhan dari mulutku.
Tuhan.......saat
ini hati dan otakku masih bisa menyadari bahwa jalan ini tak sepahit jalan orang-orang
sebelumku, tidak sepantasnya aku menyerah. Oleh karenanya jangan biarkan diri
ini hancur dan hina dalam sebuah keputusasaan.
Maaf
bila aku cengeng, suka mengeluh dan
menangis, tapi tolong kuatkan hati ini agar kiranya sanggup untuk melewati
kesempitan dan kepahitan yang tidak pernah ku tahu kapan akhirnya.
Maaf
bila aku cengeng, namun biarkan aku belajar lebih banyak lagi dari kesempitan
dan kepahitan ini. Jangan ada raguMu tentangku, meskipun air mataku
mengalir dan hatiku merasakan sakit tetapi aku tetap ingin mengusaikan jalan
ini, dengan cara yang Engkau ridhoi.
Tuhan
maaf......aku cengeng