Senin, 01 Desember 2014

Tuhan maaf, aku Cengeng

Masalah seolah menjadi teman dalam keseharianku, sedangkan kesendirian seolah menjadi pengiring setia dalam setiap detik waktu yang aku lewati. Tidak terasa, begitu jauh pencapaianku melalui hati yang rapuh dan tak pernah berhenti berharap ini.
Rasa demi rasa hadir di dalam hati dan tak lupa ia meninggalkan bekas, sebelum akhirnya lenyap untuk selamanya. Tidak peduli lebih banyak manakah antara bekas yang menyakitkan dengan bekas yang mengesankan yang tertinggal di hati ini. Semuanya aku terima, aku nikmati, sebab dari bekas-bekas itulah aku bisa belajar tentang kehidupan.
Subkhanallah........hampir enam bulan ini Allah memberiku kesempatan untuk belajar dari sebuah kesempitan dan kepahitan. Bahkan tak jarang, kesempitan dan kepahitan itu belum berlalu dari relung hati yang rapuh ini, kesempitan dan kepahitan baru datang.
Aku coba untuk mensyukurinya, aku coba untuk tetap tersenyum dan berwajah cerah layakya wajah langit baru di esok hari disetiap hari baru yang tiba. Tapi......... akhir-akhir ini semua seolah hilang dari diriku. Semangat, harapan, dan juga kesanggupan diri ini untuk menempuhi jalan Allah yang tak luput dari cobaan dan godaan.
Mulutku sering mengeluarkan keluhan, yang pada akhirnya hanya menambah beban dari kesempitan dan kepahitan yang ada. Otakku mulai sibuk memikirkan keputusasaan yang pada akhirnya melahirkan kebimbangan. Sungguh semua itu justru membuat semua ini semakin berat dan sulit untuk dilalui.
Meskipun di sela-sela keluhan itu terucap istighfar sebagai tanda penyesalan atas lemahnya jiwa ini, namun masih saja air mata sering kali hadir bersama dengan celotehan keluhan dari mulutku.
Tuhan.......saat ini hati dan otakku masih bisa menyadari bahwa  jalan ini tak sepahit jalan orang-orang sebelumku, tidak sepantasnya aku menyerah. Oleh karenanya jangan biarkan diri ini hancur dan hina dalam sebuah keputusasaan.
Maaf  bila aku cengeng, suka mengeluh dan menangis, tapi tolong kuatkan hati ini agar kiranya sanggup untuk melewati kesempitan dan kepahitan yang tidak pernah ku tahu kapan akhirnya.
Maaf bila aku cengeng, namun biarkan aku belajar lebih banyak lagi dari kesempitan dan kepahitan ini. Jangan ada raguMu tentangku, meskipun air mataku mengalir dan hatiku merasakan sakit tetapi aku tetap ingin mengusaikan jalan ini, dengan cara yang Engkau ridhoi.
Tuhan maaf......aku cengeng

Tidak ada komentar:

Posting Komentar