Rabu, 18 Maret 2015




………………?
ABSURD
Setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tidak semua hal dapat kita lakukan, tentu semua itu karena keterbatasan ilmu dan keahlian yang kita miliki.
Kelebihan bukanlah sesuatu yang bisa kita sombongkan  dan kekuarangan bukanlah sesuatu yang bisa kita gunakan sebagai alasan untuk berputus asa.
Dengan kelebihan  dan keahlian yang kita miliki, kita berusaha, bekerja untuk mencapai kehidupan yang lebih baik. Dengan kelebihan dan keahlian yang kita miliki, kita berusaha menjadi manusia yang bermanfaat bagi diri sendiri, keluarga dan masyarakat umum.
Dengan kelemahan, kita menjadi manusia yang lebih baik dari hari ke hari. Kelemahan mendorong manusia untuk terus berlajar, kelemahan menyadarkan seseorang bahwa ia tidak bisa hidup sendiri sehingga ia berusaha menjadi pribadi yang ramah, bijaksana dan peduli terhadap sesama.
Hari ini tekadku hampir bulat untuk mengakhiri kisah ini. Tekadku hampir bulat untuk mencari jalan lain, jalan lain yang membuatku tetap bisa berkontribusi bagi mereka yang membutuhkan melalui amanah yang sesuai dengan kemampuan dan keahlianku.
Terasa nelangsa memang, sebab aku telah berputus asa dari belajarku untuk memberbaiki diri dari kekurangan ini.  Sungguh hati  ini belum sekuat besi dan baja yang kuat menahan panas dan tempaan. Ini seperti pembunuhan karakter, aku harus menjadi yang bukan seperti biasanya aku. Aku tahu ini tidaklah buruk….tapi aku masih belum sanggup meskipun aku mengakui dan menyakini hakikat dari kelebihan dan kekurangan sebagimana yang ku ungkap di atas.
Apakah aku ini terlalu pengecut……?
ATAU…………………….
Aku tertalu lemah sebagai seorang pejuang….?
Ketulusan hati yang paling dalam aku berharap Tuhan memberikan jalan terbaik…..
Sebab aku tidak ingin mengecewakan siapapun….
Sebab aku tidak ingin menjadi beban bagi siapapun……
Jika memang masih harus berlanjut biarkan ini berlanjut dengan hadirnya solusi terbaik tapi bila cukup sampai disini maka biarkan ini berakhir dengan baik…..
 Aku berharap keputusan akhir dari cerita ini tidak akan lama, karena belajar dari cerita ini sangat sulit dan menyiksa sebab ini soal kesulitan bukan soal kesempitan…..

“Curahan hati anak pinggiran”
“Pesanku, terus berjuang dan jangan menyerah. Jadilah pribadi yang kuat nan tangguh. Aku berharap dari setiap kesulitan yang ada tidak akan membuatmu  semakin merindukan Tuhan hingga engkau ingin segera bertemu denganNya, sebab aku takut jika kerinduan itu hanya disebabkan engkau tak sanggup lagi menahan luka dan badai gelombang kehidupan.”
“Engkau hanya perlu mengukuhkan lagi rasa percaya dirimu, Tuhan memiliki mkasud nan indah lagi mulia melalu berbagai kesulitan dan kesempitan yang seolah tiada henti menerpamu. Sungguh melalui ujian itu, terlihat betapa tangguhnya engkau, betapa bijaksana dan mulianya hatimu sebagai seorang hamba, hamba sanga pencipta alama semesta dengan segala kuasaNya yang indah nan mulia”

Rabu, 11 Maret 2015






Sobat-sobat yang budiman yuk kita sukseskan program ini. Bersama berpartisipasi mendorong pertumbuhan anak yatim di indonesia yang unggul dan mandiri......

Selasa, 10 Maret 2015



Haruskah Ku Tutup Kisah ini……?
Bagaimana mengatasi lelah ini….
Tiada tempat bagiku untuk berucap akan seisi hati yang senantiasa terbolak-balik oleh rasa bahagia, semangat optimisme, kekecewaan, kesedihan juga kebimbangan selain kepada Engkau wahai Dzat yang telah menciptakan aku.
Ini bukan pertama kalinya dalam hidupku akan hadirnya bisikan-bisikan keputusasaan dan dorongan untuk berhenti sampai disini saja. Tapi pada kenyataannya sungguh tidak semudah itu, meskipun hasrat ingin berhenti telah memuncak, keputusasaan telah berkuasa dalam jiwa namun masih saja selalu ada secuil rasa takut yang menahan kakiku, menahan mulutku untuk berucap, “aku berhenti, aku benar-benar sudah putus asa dengan semua”.
Tuhan….aku selalu ingin Engkau sayang, aku selalu ingin menjadi yang istimewa bagiMu, oleh karenanya selalu saja muncul rasa takut dalam diriku untuk berputus asa dari suatu keadaan atau masalah.
Tapi kali ini Tuhan seolah sudah tak dapat lagi ku temui jalan penyelesaian dari masalah ini. Hingga kini rasa takut itu coba aku lunturkan dengan mengumpulkan keberanian diri untuk berucap maaf dan sesal bahwa aku sudah tak sanggup lagi mengemban amanah ini.
Aku mencintai anak-anak yatim dengan sepenuh hati, air mata mereka air mataku juga, senyum dan tawa mereka adalah senyum dan tawa juga. Aku ingin bisa banyak berkontribusi untuk mereka tap ibukan melalui jalan ini Tuhan, bukan melalui amanah ini.
Aku bukannya bersifat sok tahu, hanya saja jika ini memang ini adalah jalan terbaik bagi mengapa begitu sulit bagiku untuk bergerak, bersemangat melaksanakan amanah ini….?
Sungguh kini ketakutan dan kelinglunganku telah memuncak.
Sisi lain dari belahan hatiku masih terus berbisik pertanyaan, “Bukankah ini terlalu dini bagiku untuk melepas tangan mereka…..?”
Tuhan sungguh bantu aku untuk menyikapi ini semua, jika memang aku harus mengakhirinya maka teguhkanlah hati ini. Buang semua ketakuta-ketakutan dan baying-bayang kesengsaraan antara aku dan anak-anak. Tapi jika ini adalah bagian dari caraMu untuk mendewasakan aku, jika ini adalah cara terbaikMu untuk mematangkan kebijaksanaanku maka tolong jangan buat diriku dikuasai rasa bimbang, kesal dan kecewa.
Jangan pula biarkan diriku dikuasai emosi yang tak terarah. Biarkan bibir ini tetap bisu jika bicara hanya akan membuatku mengucapkan seribu keluhan yang  akan semakin memberatkan jiwaku untuk melakukan tugas mulia ini.
Sungguh Tuhan bantu aku, harus ku tutup kisah ini sampai disini saja atau harus aku pompa lagi semangatku untuk aku melanjutkan jalan ini……….