Selasa, 10 Maret 2015



Haruskah Ku Tutup Kisah ini……?
Bagaimana mengatasi lelah ini….
Tiada tempat bagiku untuk berucap akan seisi hati yang senantiasa terbolak-balik oleh rasa bahagia, semangat optimisme, kekecewaan, kesedihan juga kebimbangan selain kepada Engkau wahai Dzat yang telah menciptakan aku.
Ini bukan pertama kalinya dalam hidupku akan hadirnya bisikan-bisikan keputusasaan dan dorongan untuk berhenti sampai disini saja. Tapi pada kenyataannya sungguh tidak semudah itu, meskipun hasrat ingin berhenti telah memuncak, keputusasaan telah berkuasa dalam jiwa namun masih saja selalu ada secuil rasa takut yang menahan kakiku, menahan mulutku untuk berucap, “aku berhenti, aku benar-benar sudah putus asa dengan semua”.
Tuhan….aku selalu ingin Engkau sayang, aku selalu ingin menjadi yang istimewa bagiMu, oleh karenanya selalu saja muncul rasa takut dalam diriku untuk berputus asa dari suatu keadaan atau masalah.
Tapi kali ini Tuhan seolah sudah tak dapat lagi ku temui jalan penyelesaian dari masalah ini. Hingga kini rasa takut itu coba aku lunturkan dengan mengumpulkan keberanian diri untuk berucap maaf dan sesal bahwa aku sudah tak sanggup lagi mengemban amanah ini.
Aku mencintai anak-anak yatim dengan sepenuh hati, air mata mereka air mataku juga, senyum dan tawa mereka adalah senyum dan tawa juga. Aku ingin bisa banyak berkontribusi untuk mereka tap ibukan melalui jalan ini Tuhan, bukan melalui amanah ini.
Aku bukannya bersifat sok tahu, hanya saja jika ini memang ini adalah jalan terbaik bagi mengapa begitu sulit bagiku untuk bergerak, bersemangat melaksanakan amanah ini….?
Sungguh kini ketakutan dan kelinglunganku telah memuncak.
Sisi lain dari belahan hatiku masih terus berbisik pertanyaan, “Bukankah ini terlalu dini bagiku untuk melepas tangan mereka…..?”
Tuhan sungguh bantu aku untuk menyikapi ini semua, jika memang aku harus mengakhirinya maka teguhkanlah hati ini. Buang semua ketakuta-ketakutan dan baying-bayang kesengsaraan antara aku dan anak-anak. Tapi jika ini adalah bagian dari caraMu untuk mendewasakan aku, jika ini adalah cara terbaikMu untuk mematangkan kebijaksanaanku maka tolong jangan buat diriku dikuasai rasa bimbang, kesal dan kecewa.
Jangan pula biarkan diriku dikuasai emosi yang tak terarah. Biarkan bibir ini tetap bisu jika bicara hanya akan membuatku mengucapkan seribu keluhan yang  akan semakin memberatkan jiwaku untuk melakukan tugas mulia ini.
Sungguh Tuhan bantu aku, harus ku tutup kisah ini sampai disini saja atau harus aku pompa lagi semangatku untuk aku melanjutkan jalan ini……….

Tidak ada komentar:

Posting Komentar