Haruskah
Ku Tutup Kisah ini……?
Bagaimana mengatasi lelah ini….
Tiada tempat bagiku untuk
berucap akan seisi hati yang senantiasa terbolak-balik oleh rasa bahagia,
semangat optimisme, kekecewaan, kesedihan juga kebimbangan selain kepada Engkau
wahai Dzat yang telah menciptakan aku.
Ini bukan pertama kalinya dalam
hidupku akan hadirnya bisikan-bisikan keputusasaan dan dorongan untuk berhenti
sampai disini saja. Tapi pada kenyataannya sungguh tidak semudah itu, meskipun
hasrat ingin berhenti telah memuncak, keputusasaan telah berkuasa dalam jiwa
namun masih saja selalu ada secuil rasa takut yang menahan kakiku, menahan
mulutku untuk berucap, “aku berhenti, aku benar-benar sudah putus asa dengan
semua”.
Tuhan….aku selalu ingin Engkau
sayang, aku selalu ingin menjadi yang istimewa bagiMu, oleh karenanya selalu
saja muncul rasa takut dalam diriku untuk berputus asa dari suatu keadaan atau
masalah.
Tapi kali ini Tuhan seolah
sudah tak dapat lagi ku temui jalan penyelesaian dari masalah ini. Hingga kini
rasa takut itu coba aku lunturkan dengan mengumpulkan keberanian diri untuk
berucap maaf dan sesal bahwa aku sudah tak sanggup lagi mengemban amanah ini.
Aku mencintai anak-anak yatim
dengan sepenuh hati, air mata mereka air mataku juga, senyum dan tawa mereka
adalah senyum dan tawa juga. Aku ingin bisa banyak berkontribusi untuk mereka tap
ibukan melalui jalan ini Tuhan, bukan melalui amanah ini.
Aku bukannya bersifat sok tahu,
hanya saja jika ini memang ini adalah jalan terbaik bagi mengapa begitu sulit
bagiku untuk bergerak, bersemangat melaksanakan amanah ini….?
Sungguh kini ketakutan dan
kelinglunganku telah memuncak.
Sisi lain dari belahan hatiku
masih terus berbisik pertanyaan, “Bukankah ini terlalu dini bagiku untuk
melepas tangan mereka…..?”
Tuhan sungguh bantu aku untuk
menyikapi ini semua, jika memang aku harus mengakhirinya maka teguhkanlah hati
ini. Buang semua ketakuta-ketakutan dan baying-bayang kesengsaraan antara aku
dan anak-anak. Tapi jika ini adalah bagian dari caraMu untuk mendewasakan aku,
jika ini adalah cara terbaikMu untuk mematangkan kebijaksanaanku maka tolong
jangan buat diriku dikuasai rasa bimbang, kesal dan kecewa.
Jangan pula biarkan diriku
dikuasai emosi yang tak terarah. Biarkan bibir ini tetap bisu jika bicara hanya
akan membuatku mengucapkan seribu keluhan yang akan semakin memberatkan jiwaku untuk
melakukan tugas mulia ini.
Sungguh Tuhan bantu aku, harus
ku tutup kisah ini sampai disini saja atau harus aku pompa lagi semangatku
untuk aku melanjutkan jalan ini……….
Tidak ada komentar:
Posting Komentar