SUDAH CUKUP, AKHIRI SAJA……..
Cinta…….
Cinta adalah
karunia terbesar dari Allah untuk hambaNya. Saat cinta itu ada, tumbuh dan
berkembang bebas dalam hati seseorang maka segalanya terlihat begitu sempurna,
begitu indah dan begitu berwarna.
Kemudian
kebahagian dan keindahan cinta tersebut akan memberikan energi positif bagi orang-orang
disekelilingnya, ketika cinta yang sama telah tumbuh dan berkembang pada dua hati.
Keduanya dipertemukan dan dipersatukan secara ajaib. Yah…..Allah memang selalu
memiliki cara ajaib untuk membuat hambaNya bahagia.
Setimpal dengan
kebahagiaan yang diterima, dalam cinta seseorang juga akan terluka dengan luka
yang tidak biasa. Semakin sempurna kebahagiaan yang diperoleh dari cintanya
maka semakin sempurna pula kesakitan dan luka yang akan dirasakan. Itu sudah
menjadi ketetapan Allah yang tidak bisa kita ubah.
Seperti yang di
alami sahabatku. Ia tampak begitu sedih dan kecewa. Wanita yang dicintainya,
yang dikaguminya tidak mau menjadi pendamping hidupnya.
Bukan karena
sahabatku kurang tampan atau kurang baik. Secara fisik sahabatku normal
sebagaimana laki-laki pada umumnya. Dan untuk sikap sendiri dia adalah pribadi
yang santun, rendah hati, suka menolong dan sangat menyenangkan.
Wanita itu
menolak cinta sahabatku yang begitu tulus dengan alasan yang
menurutku……….entahlah kata apa yang tepat untuk menyebutnya.
Wanita itu tidak
mau menerima cinta sahabatku karena ia hanyalah seorang pemuda biasa, bukan seorang
PNS. Wanita itu begitu khawatir tentang kehidupannya di masa depan. Ia juga
tidak mau jika kelak ia punya anak, anaknya memiliki ayah yang hanya lulusan
SMA. Sungguh ia begitu detil memikirkan soal reputasinya dihadapan manusia.
Tapi bukan
sahabatku kalau menyerah begitu saja. Dengan setulus hati ia mencoba menjelaskan
kepada si wanita bahwa kehidupannya kelak akan berusaha ia penuhi dengan baik. Sahabatku
bukanlah laki yang mengambil keputusan tanpa rencana dan persiapan yang matang.
Sahabatku bukanlah seorang pengangguran. Bahkan saat ini ia tengah merintis
usaha konveksi dan distro.
Tapi rasa khawatir
si wanita terlalu besar sehingga ketulusan cinta sahabatku tidak di sadari
olehnya. Si wanita begitu risau dengan
masa depannya, mulai dari soal terjamin dan tidaknya hidupnya nanti. Sampai
soal latar pendidikanpun begitu membenani pikirannya.
Sedihnya dalam
hal ini kita tidak bisa menyalahkan si wanita. Karena biar bagaimanapun
memiliki pasangan seorang PNS itu memang tidak perlu was-was soal ekonomi. Asal
si suami tidak macam-macam bin aneh-aneh gaji dan tunjangan bakalan lancar
setiap bulannya. Dan soal latar belakang pendidikan, memang seorang wanita akan lebih percaya diri ketika mengenalkan
suaminya atau ayah dari anaknya seorang yang berpendidikan tinggi katakan
sarjana. Sedihnya lagi adalah bisa jadi ia juga memiliki alasan yang lain.
Sebab setelah sempat yakin tiba-tiba ia ragu dan memutuskan hubungan begitu
saja, tanpa memberikan alasan dan penjelasan. Wawallah huallam, hanya Allah yang tahu.
Tapi……tapi ni
ya…….memangnya hidup ini kita yang ngatur? Roda itu kan berputar. Bahkan
mendungpun tidak selalu berarti hujan. Maksudnya adalah tidak ada kepastian
dalam hidup ini. Saat kita terlahir di dunia ini skenario hidup kita telah
selesai ditulis sang pencipta di kitab Lauh Mahfudz.
Menikah dengan
seorang PNS atau dengan seorang yang sangat mapan pun itu tidak akan menjamin
bahwa kehidupan kita ke depannya akan baik-baik saja. Karena yang namanya ujian
itu bakalan terus menghampiri hidup manusia selagi ia masih bernafas. Dan yang
namanya ujian itu wujudnya macem-macem, mulai dari bangkrut, kebakaran, kena
tipu, kematian sampai perceraian dan pengkhianatan.
Jadi kenapa kita
harus hidup dengan ideologi semacam itu?
“Harus menikah
dengan seorang PNS”
“Harus menikah
dengan konglomerat”
“Harus menikah
dengan keturuan raja”
Dan harus,
harus, harus yang lain…….
Kenapa harus
hidup dengan ideologi semacam itu? Kalau pada akhirnya itu semua tidak bisa
menjadi jaminan keabadian kebahagiaan kita ke depannya. Terus kalau seandainya
sampai tua tidak juga menemukan pasangan yang sesuai dengan kriteria, terus tidak
akan menikah? Memilih menjadi tua, renta dan kesepian seorang diri?
Maaf jika
mungkin terlalu kasar……tapi aku seperti itu bukan karena marah hanya saja aku
belum bisa memahami pola pikir semacam itu.
Bukankah untuk
menghadapi kehidupan yang dipenuhi dengan ketidakpastian ini yang kita butuhkan
hanyalah orang yang bisa memahami kurangnya kita? Orang yang bisa menutup kelemahan
kita dengan kelebihannya? Orang yang kuat menghadapi badai sekencang apapun,orang
yang tidak akan pernah menyerah dan selalu siap berjuang dan bekerja keras
untuk kebahagiaan kita? Orang yang selalu sabar dan santun kepada kita,
keluarga kita dan orang di sekeliling kita?
Bukankah hanya
orang seperti itu yang kita butuhkan?
Kita tidak butuh
apakah dia seorang yang tampan atau tidak? Kita tidak butuh apakah dia seorang
keturunan ningrat atau bukan? Kita juga tidak butuh apakah dia seorang yang
berpendidikan tinggi atau bukan? Bagaimana jika ia tidak bersekolah karena
keadaan ekonomi keluarganya?
Lagi pula sukses tidak hanya milik mereka yang berpendidikan tinggi.
Sukses adalah milik siapa saja yang mau bekerja keras dan tidak pernah
menyerah. Terbuktikan banyak pengusaha kaya yang bahkan lulus SD saja tidak.
Karena
kebahagiaan bukan hanya soal terjaminnya semua kebutuhan kita tetapi
kebahagiaan adalah soal kenyamanan, soal hidup bersama dengan orang yang bisa
memahami kita, sabar menghadapi kita dan tidak pernah menyerah dengan kita.
Dan kehormatan
serta derajat seseorang tidak bergantung pada tinggi rendahnya pendidikan.
Seseorang dihormati karena jasanya, karena karyanya, karena sikapnya yang
selalu menghargai orang lain. Setinggi apapun pendidikanmu, setinggi apapun
jabatanmu jika kamu adalah orang yang berperangai buruk, jika kamu adalah orang
yang tidak bisa menghargai orang lain. Maka orang akan ringan menggunakan
lidahnya untuk menghinamu.
Jadi maksud dari
tulisan ini adalah mari kita mengambil hikmah dari sebuah kejadian di atas.
Jangan bicara cinta jika itu masih soal status dan strata. Status dan strata
tidak akan menyelamatkan kehidupan kita di masa mendatang baik di dunia dan
akhirat. Jangan bicara cinta jika itu masih dipenuhi dengan syarat duniawi yang
tidak masuk akal.
Rezeki, jodoh
dan maut itu sudah di atur tugas kita itu hanya berusaha dan berdoa. Jangan
membuat standar atau prasyarat yang membuatmu menjadi sulit merasa bahagia. Jangan membuat standar atau prasyarat yang
membuatmu tidak bisa melihat ketulusan cinta dan kemuliaan akhlak seseorang.
Sudah cukup
akhiri saja kesedihan karena cinta tak terbalas. Karena jika kamu gagal
memilikinya itu berarti Allah sudah menyiapkan orang yang lebih baik dari dia.
Sudah cukup
akhir saja semua kekhawatiran soal masa depan dengan standar-standar dan
prasyarat duniawi. Dunia ini tidak akan pernah memuasakanmu. Rasa syukur dan
kerja keras dengan iringan doalah yang
akan membahagiakanmu dengan pasanganmu.
Sudah cukup akhiri
saja….
Bersedihlah
untuk orang yang tepat, menagislah untuk orang yang tepat. Jangan memaksakan
pemahaman kepada orang yang sebenarnya mendengarkannya saja tidak mau.
Lanjutkan hidupmu dengan kesyukuran, kerja keras, doa dan ketaatan.
Sepenggal coretan yang terinpirasi dari kisah
sahabat…..