Rabu, 23 November 2016



Lilin ATAU Obor.......?
Satu buah lilin menjadi sangat berarti ketika ia berada disebuah tempat yang gelap. Rasa bangga dan bahagia memenuhi hati sang lilin. Sebab cahaya yang terpancar dari lilin tersebut merupakan penuntun yang membawa seseorang menuju impiannya. Cahaya itu adalah harapan yang membawa seseorang keluar dari kedukaan.
Tentu itu adalah suatu hal yang membanggakan dan sangat mulia. Ketika kita bisa membantu seseorang keluar dari kedukaan dan kesakitannya. Ketika kita bisa menjadi penunjuk arah bagi seseorang yang tersesat dalam perjalanannya mewujudkan mimpi.
Tapi....kita tidak boleh lupa bahwa untuk menghasilkan cahaya yang menerangi kegelapan sebuah lilin harus membakar dirinya sendiri. Sampai habis dan ia tidak berguna lagi.
Apakah benar untuk sesuatu yang mulia, untuk sesuatu yang baik kita harus mengorbankan diri kita seluruhnya?
Apakah benar demi kebahagiaan seseorang, demi menolong seseorang, demi memberikan sekerlip cahaya harapan kepada seseorang kita harus berkorban sepenuhnya sehingga tidak ada waktu atau bahkan kesempatan sedikitpun untuk kita turut berbahagia?
Hemttttttt...........
Aku rasa itu tidaklah benar?
Yang benar adalah ketika kita membantu seseorang untuk mewujudkan mimpinya secara tidak langsung kita telah menaiki satu atau bahkan dua buah anak tangga mimpi kita sendiri. Atau bisa dibilang bahwa dengan membantu seseorang mewujudkan mimpinya itu tidak berarti kita telah kehilangan kesempatan kita untuk mewujudkan mimpi kita sendiri tetapi justru sebaliknya. Dengan membantu seseorang mewujudkan mimpi kita telah maju satu atau bahkan dua langkah lebih cepat dalam menaiki tangga-tangga mimpi kita.Semua itu hanya soal kesungguhan, strategi yang tepat dan ketulusan dalam melakukannya.
Tidak seharusnya kita menjadi lilin yang demi menerangi orang-orang disekelilingnya ia harus membakar dirinya sendiri. Kita bisa menjadi obor, obor yang menerangi orang-orang di sekelilingnya tanpa harus membakar dirinya sendiri. Sehingga pada akhir cerita ia bisa turut serta ke puncak dan merasakan kebahagiaan bersama orang-orang yang menerima manfaat dari cahanyanya.
Ini bukan berarti saya tidak setuju dengan seseorang yang memutuskan untuk berjuang jiwa dan raganya demi melindungi atau membahagiakan seseorang yang dicintainya. Tapi aku hanya berfikir bila ada jalan yang membuat kita bersama dengan orang yang kita sayangi  bisa bahagia bersama kenapa kita tidak pilih jalan itu.
Saat obor dinyalakan perlahan panas akan menyebar keseluruh tubuh obor, panas, panas dan semakin panas. Pada saat yang bersamaan si pembawa obor tentu tidak merasakan panas sepanas yang dirasakan disekujur tubuh obor. Tapi yang tidak boleh kita lupakan disini adalah si pebawa obor juga merasakan kelelahan atau bahkan kesakitan akibat membawa obor. Tentu kita tahu bahwa obor tidak seringan lilin.
Dari sini kita tentu menyadari bahwa baik dari obor maupun si pembawa obor sama-sama bekerja, berjuang dan berkorban. Dan nanti di garis finish mereka bisa bahagia dan bangga bersama. Bukankah yang demikian itu lebih adil, lebih indah?
Tidak benar kamu menzalimi diri kamu sendiri demi kebahagiaan orang lain. Dan tidak benar juga kamu menzalimi orang lain demi kebahagiaanmu sendiri. Yang benar adalah mari kita berjuang dan berkorban dengan tulus dan sungguh-sungguh bersama. Agar pada akhirnya kita bisa saling berbagi kebahagiaan. Agar diantara kita bisa sama-sama belajar dari sebuah kepahitan dan kesakitan. Sehingga kelak dimasa depan kita tumbuh menjadi pribadi yang bijaksana dan saling mengasihi satu sama lain.
Kamis, 24 November 2016
Sebuah coretan yang terinspirasi dari nasehat seorang “umi”

Teruslah berjuang dengan lurus kawan, wujudkan mimpimu dan bahagiakan orang-orang yang engkau sayangi.
Engkau memiliki kesempatan dan juga hak untuk bahagia dengan versimu sendiri. Tetapi ingat untuk bahagia tidak seharus kamu merebut atau merusak kebahagiaan orang lain.
Jadi obor yang kuat menahan bahan bakar dan sekaligus panasnya api sehingga engkau bisa bahagia bersama dengan orang-orang yang kau sayangi......


Rabu, 16 November 2016



Sebagaimana Fitrahmu.........
Sepi....
Rasa itu pernah hadir mengisi ruang hatimu. Entah karena memang kamu sedang sendiri atau karena hatimu sedang tertuju pada satu orang yang pada detik ini tidak sedang bersamamu.
Sepi....
Sebenarnya itu adalah hal wajar, itu bukanlah penyakit langka yang belum ditemukan obatnya. Tetapi tidak mengapa jika sepi adalah sebuah aib besar bagimu. Sehingga tidak seorangpun di dunia ini boleh mengetahuinya.
Yach.....
Kadang-kadang memang sulit bagi kita untuk mengerti dan memahami sepi itu sendiri, ketika ia datang pada saat kita berada dalam keramaian. Atau saat ia datang pada hidup kita yang semuanya berjalan lancar dan baik-baik saja.
Sejujurnya saat-saat seperti itu adalah saat yang paling tepat bagi kita untuk bercermin. Pergilah ke suatu tempat dan dapatkan sebuah cermin yang besar sehingga kamu bisa melihat dirimu seutuhnya.
 Semua boleh berjalan lancar, keluarga beserta sahabat memang berada disisi kita tapi........
Apakah semua yang terjadi, semua yang kita peroleh, semua yang kita usahakan sudah sesuai lini? Sudah kita pastikan bahwa dari setiap bentuk kebahagiaan yang kita miliki, kita peroleh dengan cara yang benar? Tidak ada yang terenggut haknya? Tidak ada yang tersakiti dan dirugikan? Sudah kita pastikan bahwa keputusan atau pilihan yang kita ambil adalah sebuah keputusan yang suatu hari nanti akan membuat kita bangga? Benar kita sedang tidak egois dihadapan siapapun?
Oke mungkin saja semua engkau peroleh dengan cara yang jujur dan lurus tapi.........
Sudahkan engkau penuhi hak-hak yang ada dalam dirimu secara sempurna? Syahadatmu? Sholat lima waktumu? Sholat sunahmu?
Ya.....sudah.....
Jika sudah, lalu bagaimana dengan hak harta dan ilmumu? Sudahkan engkau zakati? Sudahkan engkau sedekahkan? Sudahkan ilmu itu bermanfaat bagimu dan orang-orang disekelilingmu?
Jawaban apa yang akan engkau berikan untuk semua pertanyaan itu?
Sudah....?
Belum...?
Pada kenyataannya kita ini memang makhluk yang terlahir sebagai makhluk sosial. Kita tidak bisa individualis. Selain itu kita ini hanyalah makhluk yang tidak berdaya. Selalu dan akan selalu bergantung kepada sang pencipta.
Setiap fitrah yang kita langgar saat itu juga keburukan akan datang menghampiri. Entah itu berwujud sepi, sedih, takut atau sakit.
Sholatmu, zakatmu, sedekahmu, kemanfaatan ilmumu untuk mu dan untuk orang-orang disekelilingmu adalah sendi-sendi kehidupan yang harus engkau jaga keseimbangannya. Karena bila salah satunya engkau tinggalkan maka dapat dipastikan bahwa hidupmu akan sakit atau tidak seimbang. Akan datang masa dimana kamu tiba-tiba merasa sepi, tidak bahagia atau gelisah dengan sebab yang tidak engkau pahami.
Jika sudah sedemikian itu mungkin kamu atau bahkan kita akan pergi mengelilingi dunia dengan dalih mencari ketenangan. Sobat.....
Saat rasa gelisah muncul, rasa sepi dan kosong muncul dalam hidupmu dengan sebab yang tidak engkau ketahui, maka hal yang perlu engkau lakukan hanya intropeksi diri.
Sudahkah engkau hidup sebagaiamana fitrahmu?
Makhluk sosialis, makhluk yang membutuhkan yang satu dengan yang lain. Sehingga sudah menjadi sangat lumrah ketika di dalamnya harus ada yang namanya sikap saling mengerti, memahami, memaafkan, peduli, jujur dan sportif.
Makhluk yang tidak berdaya, makhluk yang selalu membutuhkan rahmat dan karunia tuhannya. Sehingga sangat lumrah ketika di dalamnya harus ada sifat penghambaan, ketaatan, kepasrahan, dan keihklasan.
Jika engkau telah hidup lurus, bahagia, tanpa merusak atau merebut hak orang lain,
Jika engkau telah taat bersujud, beribadah dan membuang sifat sombongmu,
Maka kebahagiaan yang sempurna itu pasti ada dalam hatimu. Karena sejatinya untuk bahagia kamu hanya perlu hidup sebagaimana fitrahmu.......