Lilin ATAU
Obor.......?
Satu buah lilin menjadi sangat berarti ketika ia berada
disebuah tempat yang gelap. Rasa bangga dan bahagia memenuhi hati sang lilin. Sebab
cahaya yang terpancar dari lilin tersebut merupakan penuntun yang membawa
seseorang menuju impiannya. Cahaya itu adalah harapan yang membawa seseorang
keluar dari kedukaan.
Tentu itu adalah suatu hal yang membanggakan dan sangat
mulia. Ketika kita bisa membantu seseorang keluar dari kedukaan dan
kesakitannya. Ketika kita bisa menjadi penunjuk arah bagi seseorang yang
tersesat dalam perjalanannya mewujudkan mimpi.
Tapi....kita tidak boleh lupa bahwa untuk menghasilkan
cahaya yang menerangi kegelapan sebuah lilin harus membakar dirinya sendiri. Sampai
habis dan ia tidak berguna lagi.
Apakah benar untuk sesuatu yang mulia, untuk sesuatu yang
baik kita harus mengorbankan diri kita seluruhnya?
Apakah benar demi kebahagiaan seseorang, demi menolong
seseorang, demi memberikan sekerlip cahaya harapan kepada seseorang kita harus
berkorban sepenuhnya sehingga tidak ada waktu atau bahkan kesempatan sedikitpun
untuk kita turut berbahagia?
Hemttttttt...........
Aku rasa itu tidaklah benar?
Yang benar adalah ketika kita membantu seseorang untuk
mewujudkan mimpinya secara tidak langsung kita telah menaiki satu atau bahkan
dua buah anak tangga mimpi kita sendiri. Atau bisa dibilang bahwa dengan
membantu seseorang mewujudkan mimpinya itu tidak berarti kita telah kehilangan
kesempatan kita untuk mewujudkan mimpi kita sendiri tetapi justru sebaliknya. Dengan
membantu seseorang mewujudkan mimpi kita telah maju satu atau bahkan dua
langkah lebih cepat dalam menaiki tangga-tangga mimpi kita.Semua itu hanya soal
kesungguhan, strategi yang tepat dan ketulusan dalam melakukannya.
Tidak seharusnya kita menjadi lilin yang demi menerangi
orang-orang disekelilingnya ia harus membakar dirinya sendiri. Kita bisa
menjadi obor, obor yang menerangi orang-orang di sekelilingnya tanpa harus membakar
dirinya sendiri. Sehingga pada akhir cerita ia bisa turut serta ke puncak dan
merasakan kebahagiaan bersama orang-orang yang menerima manfaat dari
cahanyanya.
Ini bukan berarti saya tidak setuju dengan seseorang yang
memutuskan untuk berjuang jiwa dan raganya demi melindungi atau membahagiakan
seseorang yang dicintainya. Tapi aku hanya berfikir bila ada jalan yang membuat
kita bersama dengan orang yang kita sayangi
bisa bahagia bersama kenapa kita tidak pilih jalan itu.
Saat obor dinyalakan perlahan panas akan menyebar keseluruh
tubuh obor, panas, panas dan semakin panas. Pada saat yang bersamaan si pembawa
obor tentu tidak merasakan panas sepanas yang dirasakan disekujur tubuh obor. Tapi
yang tidak boleh kita lupakan disini adalah si pebawa obor juga merasakan
kelelahan atau bahkan kesakitan akibat membawa obor. Tentu kita tahu bahwa obor
tidak seringan lilin.
Dari sini kita tentu menyadari bahwa baik dari obor maupun
si pembawa obor sama-sama bekerja, berjuang dan berkorban. Dan nanti di garis
finish mereka bisa bahagia dan bangga bersama. Bukankah yang demikian itu lebih
adil, lebih indah?
Tidak benar kamu menzalimi diri kamu sendiri demi
kebahagiaan orang lain. Dan tidak benar juga kamu menzalimi orang lain demi
kebahagiaanmu sendiri. Yang benar adalah mari kita berjuang dan berkorban
dengan tulus dan sungguh-sungguh bersama. Agar pada akhirnya kita bisa saling
berbagi kebahagiaan. Agar diantara kita bisa sama-sama belajar dari sebuah
kepahitan dan kesakitan. Sehingga kelak dimasa depan kita tumbuh menjadi
pribadi yang bijaksana dan saling mengasihi satu sama lain.
Kamis, 24 November 2016
Sebuah coretan yang
terinspirasi dari nasehat seorang “umi”
Teruslah berjuang
dengan lurus kawan, wujudkan mimpimu dan bahagiakan orang-orang yang engkau
sayangi.
Engkau memiliki
kesempatan dan juga hak untuk bahagia dengan versimu sendiri. Tetapi ingat
untuk bahagia tidak seharus kamu merebut atau merusak kebahagiaan orang lain.
Jadi obor yang kuat
menahan bahan bakar dan sekaligus panasnya api sehingga engkau bisa bahagia
bersama dengan orang-orang yang kau sayangi......

