Rabu, 16 November 2016



Sebagaimana Fitrahmu.........
Sepi....
Rasa itu pernah hadir mengisi ruang hatimu. Entah karena memang kamu sedang sendiri atau karena hatimu sedang tertuju pada satu orang yang pada detik ini tidak sedang bersamamu.
Sepi....
Sebenarnya itu adalah hal wajar, itu bukanlah penyakit langka yang belum ditemukan obatnya. Tetapi tidak mengapa jika sepi adalah sebuah aib besar bagimu. Sehingga tidak seorangpun di dunia ini boleh mengetahuinya.
Yach.....
Kadang-kadang memang sulit bagi kita untuk mengerti dan memahami sepi itu sendiri, ketika ia datang pada saat kita berada dalam keramaian. Atau saat ia datang pada hidup kita yang semuanya berjalan lancar dan baik-baik saja.
Sejujurnya saat-saat seperti itu adalah saat yang paling tepat bagi kita untuk bercermin. Pergilah ke suatu tempat dan dapatkan sebuah cermin yang besar sehingga kamu bisa melihat dirimu seutuhnya.
 Semua boleh berjalan lancar, keluarga beserta sahabat memang berada disisi kita tapi........
Apakah semua yang terjadi, semua yang kita peroleh, semua yang kita usahakan sudah sesuai lini? Sudah kita pastikan bahwa dari setiap bentuk kebahagiaan yang kita miliki, kita peroleh dengan cara yang benar? Tidak ada yang terenggut haknya? Tidak ada yang tersakiti dan dirugikan? Sudah kita pastikan bahwa keputusan atau pilihan yang kita ambil adalah sebuah keputusan yang suatu hari nanti akan membuat kita bangga? Benar kita sedang tidak egois dihadapan siapapun?
Oke mungkin saja semua engkau peroleh dengan cara yang jujur dan lurus tapi.........
Sudahkan engkau penuhi hak-hak yang ada dalam dirimu secara sempurna? Syahadatmu? Sholat lima waktumu? Sholat sunahmu?
Ya.....sudah.....
Jika sudah, lalu bagaimana dengan hak harta dan ilmumu? Sudahkan engkau zakati? Sudahkan engkau sedekahkan? Sudahkan ilmu itu bermanfaat bagimu dan orang-orang disekelilingmu?
Jawaban apa yang akan engkau berikan untuk semua pertanyaan itu?
Sudah....?
Belum...?
Pada kenyataannya kita ini memang makhluk yang terlahir sebagai makhluk sosial. Kita tidak bisa individualis. Selain itu kita ini hanyalah makhluk yang tidak berdaya. Selalu dan akan selalu bergantung kepada sang pencipta.
Setiap fitrah yang kita langgar saat itu juga keburukan akan datang menghampiri. Entah itu berwujud sepi, sedih, takut atau sakit.
Sholatmu, zakatmu, sedekahmu, kemanfaatan ilmumu untuk mu dan untuk orang-orang disekelilingmu adalah sendi-sendi kehidupan yang harus engkau jaga keseimbangannya. Karena bila salah satunya engkau tinggalkan maka dapat dipastikan bahwa hidupmu akan sakit atau tidak seimbang. Akan datang masa dimana kamu tiba-tiba merasa sepi, tidak bahagia atau gelisah dengan sebab yang tidak engkau pahami.
Jika sudah sedemikian itu mungkin kamu atau bahkan kita akan pergi mengelilingi dunia dengan dalih mencari ketenangan. Sobat.....
Saat rasa gelisah muncul, rasa sepi dan kosong muncul dalam hidupmu dengan sebab yang tidak engkau ketahui, maka hal yang perlu engkau lakukan hanya intropeksi diri.
Sudahkah engkau hidup sebagaiamana fitrahmu?
Makhluk sosialis, makhluk yang membutuhkan yang satu dengan yang lain. Sehingga sudah menjadi sangat lumrah ketika di dalamnya harus ada yang namanya sikap saling mengerti, memahami, memaafkan, peduli, jujur dan sportif.
Makhluk yang tidak berdaya, makhluk yang selalu membutuhkan rahmat dan karunia tuhannya. Sehingga sangat lumrah ketika di dalamnya harus ada sifat penghambaan, ketaatan, kepasrahan, dan keihklasan.
Jika engkau telah hidup lurus, bahagia, tanpa merusak atau merebut hak orang lain,
Jika engkau telah taat bersujud, beribadah dan membuang sifat sombongmu,
Maka kebahagiaan yang sempurna itu pasti ada dalam hatimu. Karena sejatinya untuk bahagia kamu hanya perlu hidup sebagaimana fitrahmu.......


Tidak ada komentar:

Posting Komentar