Sebagaimana Fitrahmu.........
Sepi....
Rasa itu pernah hadir mengisi ruang hatimu. Entah karena
memang kamu sedang sendiri atau karena hatimu sedang tertuju pada satu orang
yang pada detik ini tidak sedang bersamamu.
Sepi....
Sebenarnya itu adalah hal wajar, itu bukanlah penyakit
langka yang belum ditemukan obatnya. Tetapi tidak mengapa jika sepi adalah
sebuah aib besar bagimu. Sehingga tidak seorangpun di dunia ini boleh
mengetahuinya.
Yach.....
Kadang-kadang memang sulit bagi kita untuk mengerti dan memahami
sepi itu sendiri, ketika ia datang pada saat kita berada dalam keramaian. Atau
saat ia datang pada hidup kita yang semuanya berjalan lancar dan baik-baik
saja.
Sejujurnya saat-saat seperti itu adalah saat yang paling
tepat bagi kita untuk bercermin. Pergilah ke suatu tempat dan dapatkan sebuah
cermin yang besar sehingga kamu bisa melihat dirimu seutuhnya.
Semua boleh berjalan
lancar, keluarga beserta sahabat memang berada disisi kita tapi........
Apakah semua yang terjadi, semua yang kita peroleh, semua
yang kita usahakan sudah sesuai lini? Sudah kita pastikan bahwa dari setiap
bentuk kebahagiaan yang kita miliki, kita peroleh dengan cara yang benar? Tidak
ada yang terenggut haknya? Tidak ada yang tersakiti dan dirugikan? Sudah kita
pastikan bahwa keputusan atau pilihan yang kita ambil adalah sebuah keputusan
yang suatu hari nanti akan membuat kita bangga? Benar kita sedang tidak egois
dihadapan siapapun?
Oke mungkin saja semua engkau peroleh dengan cara yang jujur
dan lurus tapi.........
Sudahkan engkau penuhi hak-hak yang ada dalam dirimu secara
sempurna? Syahadatmu? Sholat lima waktumu? Sholat sunahmu?
Ya.....sudah.....
Jika sudah, lalu bagaimana dengan hak harta dan ilmumu?
Sudahkan engkau zakati? Sudahkan engkau sedekahkan? Sudahkan ilmu itu bermanfaat
bagimu dan orang-orang disekelilingmu?
Jawaban apa yang akan engkau berikan untuk semua pertanyaan
itu?
Sudah....?
Belum...?
Pada kenyataannya kita ini memang makhluk yang terlahir
sebagai makhluk sosial. Kita tidak bisa individualis. Selain itu kita ini
hanyalah makhluk yang tidak berdaya. Selalu dan akan selalu bergantung kepada
sang pencipta.
Setiap fitrah yang kita langgar saat itu juga keburukan akan
datang menghampiri. Entah itu berwujud sepi, sedih, takut atau sakit.
Sholatmu, zakatmu, sedekahmu, kemanfaatan ilmumu untuk mu
dan untuk orang-orang disekelilingmu adalah sendi-sendi kehidupan yang harus
engkau jaga keseimbangannya. Karena bila salah satunya engkau tinggalkan maka
dapat dipastikan bahwa hidupmu akan sakit atau tidak seimbang. Akan datang masa
dimana kamu tiba-tiba merasa sepi, tidak bahagia atau gelisah dengan sebab yang
tidak engkau pahami.
Jika sudah sedemikian itu mungkin kamu atau bahkan kita akan
pergi mengelilingi dunia dengan dalih mencari ketenangan. Sobat.....
Saat rasa gelisah muncul, rasa sepi dan kosong muncul dalam
hidupmu dengan sebab yang tidak engkau ketahui, maka hal yang perlu engkau
lakukan hanya intropeksi diri.
Sudahkah engkau hidup sebagaiamana fitrahmu?
Makhluk sosialis, makhluk yang membutuhkan yang satu dengan
yang lain. Sehingga sudah menjadi sangat lumrah ketika di dalamnya harus ada
yang namanya sikap saling mengerti, memahami, memaafkan, peduli, jujur dan
sportif.
Makhluk yang tidak berdaya, makhluk yang selalu membutuhkan
rahmat dan karunia tuhannya. Sehingga sangat lumrah ketika di dalamnya harus
ada sifat penghambaan, ketaatan, kepasrahan, dan keihklasan.
Jika engkau telah hidup lurus, bahagia, tanpa merusak atau
merebut hak orang lain,
Jika engkau telah taat bersujud, beribadah dan membuang
sifat sombongmu,
Maka kebahagiaan yang sempurna itu pasti ada dalam hatimu.
Karena sejatinya untuk bahagia kamu hanya perlu hidup sebagaimana
fitrahmu.......

Tidak ada komentar:
Posting Komentar