Senin, 28 Januari 2013

LAZUARDI BERBISIK

Setiap orang punya jatahnya sendiri-sendiri…..
Saat aku mengingat kata-kata itu, saat itu juga aku bisa bersyukur. Aku bisa membuang rasa iri dan rasa tidak beruntungku. Aku menyadari sepenuhnya, bahwa keadaan ekonomi keluarga yang sulit telah membuat keluargaku menjadi keluarga yang kaku. Ada cinta yang begitu besar di antara kami, tetapi kami tidak pernah mengutarakan atau menampakkannya secara transparan. Keras dan beratnya perjuangan telah membuat kami tidak mengenal peka dalam bercinta. Hanya kebisuan yang selalu hadir dalam hari-hari yang terus berganti.
Dengan keadaanku yang berbeda dengan yang lain, maka aku berlajar dan terus berusaha menjadi kuat. Aku ingin menjadi sekuat lelaki, bahkan mungkin lebih. Tidak pernah menangis dan selalu bisa bertahan dalam setiap keadaan. Dan aku berhasil, tidak peduli seberapa sering aku terluka, tidak peduli seberapa berat jalan hidup yang harus aku jalani, aku tidak menangis dan aku tetap semangat berjalan melanjutkan hidup.
Tetapi sekuat apapun aku, aku tetap tidak bisa mengubah takdirku sebagai seorang wanita, makhluk Tuhan yang dikarunia hati yang lembut dan penuh kepekaan. Seiring waktu berjalan dan seiring dengan bertambahnya umur, entah secara sadar atau tidak telah merubah diriku seluruhnya, mulai dari bentuk tubuh, perasaan dan pemikiran.
Hatiku menjadi sangat lembut dan peka, bahkan otakku mulai berfikir soal cinta, dan kasih sayang. Bukan berarti dulu aku tidak memikirkan soal cinta dan kasih sayang, tetapi sekarang pikiran dan hatiku benar-benar dipenuhi dengan soal cinta dan kasih sayang. Aku menjadi lemah…..sangat lemah bahkan mataku yang telah lama kering dari airmata mulai sering basah, mataku mulai sering menitihkan airmata kepedihan dan kekecewaan.
Sering aku bertanya kekuatan apa? Kekuatan siapa? Yang telah merubahku menjadi seperti ini? Dulu aku diam dengan sikap orang tuaku yang sibuk bekerja dan membiarkanku tinggal bersama nenekku. Aku diam dan semangat menjalani hari-hariku karena aku tahu bahwa orang tuaku melakukan itu semua demi memenuhi kewajibannya sebagai orang tua kepadaku anaknya, yaitu menyekolahkanku dan memenuhi kebutuhanku lainnya. Tetapi sekarang aku tidak bisa diam, aku mulai menuntut perhatian mereka, aku mulai tidak tertarik bermain ke rumah sahabatku, padahal dulu aku bisa seharian penuh di rumah sahabatku dan itu tidak lain karena aku mulai merasa cemburu dan iri melihat sahabatku di perhatikan oleh orang tuanya, aku mmenjadi lemah dan marah saat mendengar ucapan-ucapan cinta dari orang tua sahabatku kepada sahabatku. Tetapi diam di rumah juga bukan pilihan yang baik, maka aku mulai sibuk memberikan cinta dan perhatian kepada anak-anak, teman-teman yang memiliki nasib sepertiku, “ingin menuntut tetapi tidak punya hak untuk menuntut”. Bila kita menuntut orang tua kita agar mereka memberikan perhatian dan kasih sayang seperti kebanyakan orang tua di dunia maka kita tidak bisa sekolah dan memiliki fasilitas. Tetapi bila kita sekolah dan memiliki fasilitas maka kita harus seperti  kaktus di padang pasir, yang harus bertahan dengan sedikit air saja.
Aku sadar bahwa tidak mungkin selamanya aku bertahan dengan hidup seperti itu. Dan tidak ada yang bisaku pilih kecuali menerima takdir ini. Mencintai hidupku apa adanya, dan melupakan keinginan hati untuk menuntut. Bukankah tidak ada satu orang tuapun di dunia ini yang ingin jauh dari anaknya. Dan begitu juga dengan orang tuaku, mereka bekerja siang dan malam untukku, agar aku bisa memiliki hidup yang lebih baik daripada mereka. Bukankah sifat kaku orang tuaku dan ketidakpekaan orang tuaku dalam cinta itu tidak lain disebabkan oleh banyaknya beban yang harus mereka pikul. Mereka begitu tertekan, mereka tidak pernah mengenal lelah dan sakit. Semua keluh kesah mereka simpan rapat dihati. Agar ketika mereka berkesempatan untuk pulang mereka memiliki kekuatan untuk menyapa dan  tersenyum indah kepada kita.
Setiap orang punya jatahnya masing-masing…….
Tidak perlu iri atau merasa bahwa Tuhan tidak adil, sebab rasa bahagia itu tidak bergantung oleh apapun kecuali bergantung pada hati kita sendiri. Dengan kita mencintai hidup kita maka kita akan bahagia. Karena ketika kita mencitai hidup kita, itu berarti kita mencintai keluarga kita, teman-teman kita, dan segalanya yang ada dalam hidup kita. Dan satu lagi saat kita tidak lagi sanggup berjalan karena kita merasa bahwa orang tua kita tidak peduli tentang kita kecuali pendidikan kita. Maka coba renungkan kata-kata ini, “jika saat ini kita menderita karena jauh dari perhatian orang tua kita maka pasti orang tua kita yang berada jauh di sana juga menderita karena tidak bisa melampiaskan seluruh cintanya kepada kita melalui kelembutan dan perhatian.”
Percayalah dengan kita mencintai hidup kita, maka kita akan tahu bagaimana caranya untuk kita merubah alur hidup kita. Kita akan tahu darimana kita memulai awal perbaikan dan darimana kita akan melakukan perubahan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar