Dulu
aku berfikir bahwa Tuhan tidak melihatku, Tuhan tidak mendengarku dan Tuhan
tidak mencintaiku. Bahkan bisa dibilang bahwa aku sangat marah kepada Tuhan.
Dia menciptakan kita kemudian memainkan kita sesuka hatinya. Kita seperti
sebuah boneka dan Tuhan yang memegang talinya, Ia bebas menggerakkan kita
sesuka hatiNya.
Bagimana
aku tidak berfikir seperti itu, aku selalu berusaha untuk jujur, aku selalu
berusaha bekerja keras, aku selalu berusaha berbuat baik, tetapi tidak ada satu
keinginan baikku yang dikabulkan olehnya. Aku selalu menjadi yang nomor dua.
Kegagalan dan kegagalan yang menghampiriku. Bahkan Tuhan membiarkan aku
difitnah, Tuhan membiarkan orang yang selama ini sering berbuat curang dipuji.
Sungguh
aku sangat kecewa dan sakit hati. Tapi apa yang bisa aku perbuat….? Aku adalah
ciptaannya murkaku tidak akan pernah berarti apa-apa.
Tapi
itu adalah dulu…..
Kini
aku berfikir bahwa Tuhan sangat menyayangiku, Tuhan sangat adil kepadaku. Dan
aku selalu merasa bahwa Tuhan selalu melihat dan mendengarku.
Ketika
kerja keras telah diberikan, bahkan airmata pun telah tertumpahkan karena
besarnya perjuangan, namun Tuhan masih juga belum berpihak kepada kita, maka
hanya ada empat kemungkinan.
Yang
pertama mungkin tanpa sadar kita telah melakukan kesalahan, entah kepada teman,
keluarga atau diri kita sendiri. Secara singkatnya mungkin kita telah melakukan
dosa. Karena kita tidak menyadarinya atau karena kita terlalu pengecut untuk
mengakui dan memperbaikinya maka Tuhan masih menganggap kita sebagai orang yang
tidak pantas untuk berhasil dan bahagia.
Yang
kedua mungkin selama ini kita masih menjadi orang yang tidak menjaga kesucian.
Kita masih sering dengan sengaja memasukkan dzat haram ke dalam tubuh kita dan
hal-hal kotor ke dalam otak kita. Mulut, mata dan telingalah sebagai
perantaranya.
Yang
ketiga mungkin Tuhan ingin menyimpan keberhasilan dan kebahagiaan kecil itu,
sehingga ketika sudah terkumpul banyak barulah keberhasilan dan kebahagiaan
besar akan hadir untuk kita. Keberhasilan dan kebahagiaan besar yang mungkin
kita sendiri tidak akan sanggup memikirkan dan membayangkannya.
Yang
terakhir mungkin hal buruk akan terjadi pada kita jika kita mendapatkan apa
yang telah kita usahakan dan perjuangkan. Mungkin apa yang kita bayangkan
sebenarnya tidak sesuai dengan kenyataan yang ada. Misalnya kita belajar keras
untuk menjadi seorang dokter. Dan kita menjadi dokter, banyak pasien yang kita
sembuhkan. Sampai pada akhirnya kita memiliki banyak pasien sehingga kita harus
bekerja siang dan malam. Kita tidak punya waktu untuk makan malam bersama
keluarga, bercanda bersama teman atau keluarga saat sore atau saat weekend.
Padahal kita adalah tipikal orang yang tidak bisa jauh dari keluarga dan teman,
kita adalah tipikal orang yang selalu membutuhkan hangatnya kebersamaan. Bila
sudah seperti itu pasti kita akan sangat menderita dan tertekan. Dan Tuhan
tidak mengingkan hal tersebut terjadi pada kita. Contoh yang lain, kita belajar
dan bekerja keras supaya kita menjadi miliader. Dan benar kita menjadi
miliader. Tetapi setelah kita menjadi milider kita menjadi orang yang sombong.
Padahal sebelumnya kita adalah orang yang rendah hati, sehingga kita memiliki
banyak teman, dan orang-orang di sekeliling kita sangat menghormati dan
menyayangi kita. Dan karena kita telah menjadi sombong satu-persatu teman kita
meninggalkan kita, orang-orang yang dulu menghormati dan menyayangi kita
membenci kita dan mencaci bahkan menyumpahkan kita dengan sumpah yang buruk.
Pasti tidak ada yang ingin menjadi sombong dan dibenci orangkan? Dan Tuhanpun
menginginkan hal yang sama, maka dia tidak mengabulkan apa yang kita usahakan.
Ketika
kegagalan menghampiri seharusnya bukan ekspresi kemarahan dan kesedihan yang
sensasional yang mendominasi tetapi kerendahan hati untuk berfikir, untuk melangkahkan
diri pada cermin hati. Tuhan tidak pernah mempermainkan hambaNya, Tuhan selalu
mencintai hambaNya meskipun kita melakukan salah, Tuhan tidak meninggalkan kita
begitu saja. Tuhan yang paling tahu kita karena Dia yang menciptakan kita. Maka
Dia akan memberikan apa yang kita butuhkan bukan yang kita inginkan.
Jika
saat ini kalian sedang mengalami kegegalan maka coba pikirkan empat kemungkinan
tadi. Jangan marah atau kecewa kepada Tuhan.
Tidak
sekalipun Tuhan mengambulkan keinginanku untuk bisa sekolah di sekolah yang aku
idam-idamkan. Meskipun aku sudah belajar dengan giat, meskipun aku sudah berdoa
dan berbuat baik. Setelah aku menerima takdirku dan mencoba berfikir, aku
menemukan jawabannya. Tuhan tidak mentakdirkan aku sekolah di sekolah yang
sangat aku idam-idamkan, karena Tuhan tidak ingin aku tertekan dan merasa
kesepian.
Setiap
kali aku bertemu dengan teman-temanku yang berhasil sekolah di sekolah yang aku
idam-idamkan, mereka bercerita bahwa mereka tidak merasa nyaman saat di sekolah.
Karena teman-teman mereka suka bergerombol, tidak ada rasa kekeluargaan dan
kebersamaan. Status dan fisik menjadi factor penentu dalam pertemanan. Rasa
kekeluargaan dan kesederhanaan sama sekali tidak ada disana. Teman-temanku
tidak pernah merasakan kebersamaan keluarga dalam sebuah kelas. Sementara aku
di sekolahku, aku sangat merasa bahagia, karena teman-temanku tidak
mempermasalahkan dari mana aku? Siapa aku? Mereka semua mencintaiku. Dan kami
berteman, belajar dan berpetualang bersama. Di sekolahku, setiap satu kelas ada
keluarga, dan semua kelas yang ada di sekolah adalah sebuah Negara. Negara yang
sederhana dan selalu saling menyayangi satu sama lain. Kami saling membantu dan
kami saling berbagi.
Di
sekolah teman-temanku sibuk memikir trend dan selalu menuntut kegiatan yang
harus mengeluarkan uang yang tidak sedikit. Dan betapa aku akan tertekan jika
aku tertakdir sekolah di sana, sebab aku hanyalah seorang anak yang berasal
dari keluarga sederhana, yang tidak sanggup jika harus sering-sering
mengeluarkan uang untuk kegiatan-kegiatan yang temanya refresing.
Dan
di sekolahku aku tidak hanya mendapatkan kasih sayang tetapi aku juga mendapatkan
hasil dari rajin dan ketekunanku dalam menuntut ilmu aku menjadi juara. Tidak
hanya itu saja aku juga berkesempatan menjadi seseorang yang istimewa.
Istimewanya seperti apa, itu rahasia…………….
Hehehehhehhe……
Tidak ada komentar:
Posting Komentar