Jumat, 22 Mei 2015


Fahmi yang mana?

Seperti sudah tersabdakan  waktu berlalu dari detik ke detik, menit ke menit, dari hari ke hari. Ia tidak mendengarkan siapapun dan ia juga tidak memperdulikan apapun ia hanya terus berlalu.
Diriku kini telah merasa nyaman dengan hari yang terus berganti, kegalauan tetang rasa ingin menikah yang kemudian diperparah dengan kemunculan nama “Fahmi” perlahan hilang dari pikiran dan hati ini. Rutinitas  yang dipenuhi dengan proposal, pengisian lembar formulir, mendengar  keluhan  terlalui dengan nikmatnya.
Dan pagi ini, “Monday” aku arahkan sepeda motorku ke Solo. Menghadiri agenda rutinku yang kira-kira sudah berjalan satu bulan ini, “rapat dengan kepala direksi  di kantor cabang SOLO”.
Senyumku mengembang begitu berjumpa dan berjabat tangan dengan rekan-rekan kerja ku yang cantik, solikhah dan solih, hehehehe. Tidak lama kemudian kehadiranku disusul pak Bos. Segera wajah serius namun tetap santaipun terpampang disetiap wajah peserta rapat pagi itu.
                                                                        ###
Tidak terasa 1 jam berlalu begitu saja, Pak bos sudah sampai pada tahap penutup. “Kalau tidak ada yang ditanyakan kita tutup rapat pagi ini dengan bacaan hamdalah”.
“Alhamdulillah”, serentak
Tetap semangat dan…….oya saya lupa, seperti ada yang mengingatkan wajah pak bos begitu  sumringah dan berkata, “Sekarang tim majalah bertambah satu orang lain namanya mas Fahmi”.
Jedeerrrrrr……
Deng-deg-deg-…..
Jatung yang semula berdetak normal tiba-tiba menjadi tidak beraturan bahkan tubuh yang semula rilekspun menjadi bergetar dan sedikit tidak nyaman.
“Fahmi” ternyata pesonamu belum hilang dari hatiku, ucapku dalam hati.
“Oke tetap semangat, wassalamuallaikum wr wb”.
“Walaikumsalam wr wb”.
Segera setelah menjawab salam aku izin diri untuk kembali ke kantor pusat. Aku tidak ingin berlama-lama seperti biasanya. Aku ingin segera keluar dan menenangkan diri.
                                                                     ###
Sosok seperti apakah Fahmi yang ku rasa berjodoh denganku?
Bagaimana bisa ia membuatku sangat ingin segera halal baginya, sementara aku tidak pernah melihat wajahnya atau hanya sekedar mendengar suaranya.
Bagaimana mungkin jiwa yang sembuh dari kegalauan tiba-tiba harus kembali merasakannya hanya dengan mendengar namanya…..?
Hemmttt…….
Ini benar-benar menguras energy dan waktuku…..
Siapakah Fahmi….?
Fahmi yang mana….?
Ooohhhh……..entah akan berakhir seperti apa pergulatan hati ini…..

Kamis, 14 Mei 2015



Kasih Luas nan Indah dari Rabbku, Allah SWT

Daratan bumi terhampar luas dengan indahnya, samudra dengan kilau biru hijaunya begitu menggoda mata dengan segenap kekayaan dan keindahan yang terkandung di dalamnya.
Namun pada kenyataannya luas, indah dan besarnya kekayaan yang terkandung dalam suburnya daratan dan dalamnya samudra tidak sedikitpun mampu mewakili luas, indah dan kayanya kasih tuhan, Allah SWT kepada kita.
Tidak peduli apakah hari ini kita menjadi orang yang baik atau jahat, tidak peduli apakah hari ini kita menjadi orang yang membenci atau mencintai, tidak peduli apakah hari ini kita sangat bersemangat atau berputus asa, Ia sang penguasa atas segalanya tetap melimpahkan kasih sayang dan rahmatNya kepada kita. Dengan tulus, indah dan tak mengharapkan apapun dari kita.
Kita menjadi baik atau bahkan sangat baik sekalipun tidak akan menambah atau mengurangi apapun dari apa yang dimiliki, dikuasai oleh Allah SWT dan begitupun sebaliknya.
Dia akan tetap selalu menjadi Dzat yang akan selalu mengawasi kita, mendengar kita dan memperhatikan kita. Dia lebih dari seorang sahabat, lebih dari seorang ibu yang mencintai dan mengasihi anaknya, lebih dari seorang kekasih yang membuat kita jatuh hati padanya. Dia adalah Dia Dzat paling sempurna, paling indah, paling adil dan paling dalam segalanya. Dia adalah Dia Dzat yang tidak dapat di bandingkan dengan apapun. Dia adalah Dia Dzat yang oleh siapapun tidak akan mampu membuat perumpamaan tentangNya.
Seperti itulah hati Ar Royan yang lemah nan rapuh memandang tuhan Allah SWT yang menciptakannya, yang selalu mengasihinya dengan rahmat yang tiada mampu ia mengira atau menghitunngnya.
Pun, pagi ini….
Ar Royan bangun dengan kepayahan seolah kemarin ia mengahabiskan seluruh waktunya untuk berkerja dan bekerja. Meskipun kepayahan mengikat kuat setiap sendi  kaki dan tanganya  namun ia tetap tersenyum. Ia tetap berusaha mengawali harinya dengan senyum yang indah. Meskipun tidak jelas pula senyum itu untuk siapa dan untuk apa?
Ar Royan hanya ingin tetap tersenyum  setiap dan setelah ia pertama kali membuka mata dari tidur lelapnya. Mungkin itu salah satu wujud sederhana rasa syukurnya atas limpahan nikmat dan karunia yang diperolehnya.
Meskipun tidak jarang rasa kesal, bosan dan bahkan muak akan alur kehidupan yang mengiringinya hadir dan mengisi penuh seluruh ruang hatinya, Ar Royan tetap tersenyum.
Dan sepertinya rasa itulah yang selama satu bulan ini mengusai hatinya. Entah apa sebabnya tiba-tiba saja ia merasakan kejenuhan yang teramat akan hidupnya. Akan apa yang  ia miliki, akan orang-orang di sekelilingnya, akan apa yang menjadi tugas dan tanggungjawabnya.
Bila semua telah mencapi puncaknya maka Ar Royan akan merasa muak dan kesal. Bukan dengan takdirnya, bukan juga dengan orang-orang di sekelilingnya melainkan pada dirinya sendiri. Ar Royan begitu muak dengan dirinya sendiri sebab teramat sulit baginya untuk mensyukuri atas semua nikmat dan rahmat yang ia miliki.
“Kenapa rasa ini harus muncul, membebani dan menyiksaku seperti ini? Oh sungguh rasanya aku ingin semuanya berakhir, aku ingin pulang kepadaMu.” Katanya putus asa.
Tetapi selalu saja keputusasaan itu tidak pernah berakhir dengan drama melo yang membuat setan tertawa menang. Selalu saja hati yang hampir terisi penuh oleh rasa kesal, bosan dan muak itu masih mampu di tembus oleh keyakinan yang mampu mengangkat wajahnya yang layu, menguatkan otot kakinya yang lemah hingga ia bangkit dan kembali menjalani hidupnya. Keyakinan yang mampu menembus dan menelusup masuk ke dalam hati Ar Royan bukanlah keyakinan yang tersusun dari kata-kata yang indah nan ajaib, keyakinan itu hanya tersusun dari sebuah kata-kata sederhana.
“Semua akan berakhir indah, Allah tidak akan meninggalkanku dalam kebaikkan ini”
Sederhana bukan? Namun nyatanya keyakinan itulah yang selama ini menyelamatnya dari kehinaan yang beranam “P-U-T-U-S  A-S-A”.
Keyakinan itu pula yang menyadarkannya bahwa kasih tuhannya, Allah SWT sangat tulus dan sangat luas untuknya.
Terbukti saat Ar Royan marah, Ar Royan merasa bosan dengan hidupnya Allah selalu datang dengan Ar Rohman lagi Ar Rohimnya memberi, mengasihi dan menyelamatkan Ar Royaan dari kehinanaan yang bernama “P-U-T-U-S A-S-A”.
Sobatku semua, jangan perputus asa dari rahmat Allah SWT. Kasihnya begitu luas dan tidak akan pernah habis. Dan Allah SWT semakin mengasihimu, merahmatimu dan menjagamu ketika engkau terus mendekat denganNya.

Setiap orang pernah berbuat S_A_L_A_H, tak perlu ragu atau pesimis untuk datang kepada Allah SWT untuk memohon ampun, bertobat kepadaNya dan meminta kebaikkan dan kasih sayangaNya.
Setiap orang memiliki masalah, besar kecilnya masalah itu tergantung pada pribadi itu sendiri dalam memandang dan menyikapi setiap permasalah yang ada. Tidak ada manusia yang tidak punya masalah, masalah mendewasakan kita, masalah membuat kita semakin bijaksana, masalah hadir pada kita karena kita bisa dan sanggup menanggungnya, kamu bukanlah orang yang paling menderita jadi jangan pernah berputus asa.
LA TAKHAF, LA TAHZAN INNALLAH MA ANA

“terus perbarui semangatmu dan semoga harimu indah”