Selasa, 30 Mei 2017
ADA YANG BILANG.........
Ada yang bilang kalau orang yang selalu menyemangati orang lain sebenarnya ia adalah orang yang paling butuh semangat/dukungan.
Ada yang bilang orang yang paling keras tertawanya untuk hal-hal kecil adalah orang yang kosong hatinya, ia membutuhkan perhatian.
Ada yang bilang orang yang selalu tersenyum adalah orang yang paling banyak menyimpan luka dihatinya
Entah dari siapa pertama kali statemen itu keluar....tapi.....
Tapi.... seiring waktu berlalu aku menyadari bahwa semua itu benar.
Aku mengenal seorang teman, ia begitu semangat, ia mudah sekali tertawa. Tapi semakin dalam aku melihat tawa itu semakin aku melihat kekosongan dalam hatinya. Iya membutuhkan dukungan, perhatian, dan apresiasi untuk semua yang ia lakukan. Bukan dari orang-orang disekeliling tapi cukup dari keluarga tersayang.
Aku mengenal orang yang selalu memberi semangat, nasehat positif kepada setiap orang yang ia jumpai. Dan setelah aku telisik lebih dalam lagi ternyata orang itu adalah orang yang butuh telinga untuk mendengar, butuh pundak untuk sejenak bersandar, butuh tangan untuk menggandeng dikala rapuh dan putus asa. Mungkin secara sadar atau tidak sadar aku pernah menjadi orang yang seperti ini. Selalu berusaha membantu orang untuk berfikir positif, menyemangati, padahal sebenarnya semangat itu ditujukan pada diriku sendiri.
Aku mengenal orang yang selalu tersenyum, seolah tidak ada alasan baginya untuk bersedih. Tapi semakin aku pandangi senyum itu matanya berkata kepadaku bahwa ada banyak luka dan juga kesedihan dalam hatinya. Dia tersenyum untuk menguatkan hatinya, dia tersenyum untuk bisa meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja. Karena disetiap balasan senyuman yang ditujukan untuknya itu seperti sebuah harapan. Itu sebagai sebuah pengingat bahwa ia tidak sendirian di dunia ini. Dan mungkin aku, kamu, kita, mereka pernah menjadi orang yang seperti ini.
Mungkin......
Senin, 22 Mei 2017
Ikhlas
Berarti Akhir Dari Sebuah Kisah....
Kesedihan memang harus ada dalam
cerita kehidupan anak manusia. Karena hanya dari kesedihan manusia bisa belajar
mensyukuri dengan sebenar-benarnya setiap anugerah kebahagiaan meskipun itu
hanya sebuah senyuman dari seseorang yang diidolakan. Karena hanya dari
kesedihan manusia bisa mengerti betapa pentingnya menjaga sumber kebahagiaan. Seperti
senantiasa menghargai usaha dan cara orang tua menyayangi kita.
Jika kesedihan itu tidak ada,
rasanya mustahil sekali manusia bisa benar-benar mengerti apa itu rasa bahagia.
Jika kesedihan itu tidak ada maka rasanya mustahil sekali manusia yang satu
dengan yang lain bisa saling menghargai, bisa saling percaya dan saling
berkorban.
Kesedihan, sesuatu yang
menyakitkan tetapi ternyata itu adalah pintu menuju kebahagiaan.
Tetapi manusia adakalanya
menemui keputusasaan karena kesedihan begitu setia mengisi hari-harinya. Ya...meskipun
dalam penciptaannya manusia adalah makhluk yang paling sempurna. Tetapi itu
tidak kemudian menjadikan manusia sebagai makhluk yang sempurna dalam menjalani
kisah penuh rahasia di bumi tempat kita berpijak sekarang. Manusia tetaplah
manusia yang tidak sempurna, penuh dengan kekurangan. Adakalanya melakukan hal
yang benar, adakalanya juga manusia melakukan hal yang salah. Adakalanya menjadi sangat kuat terhadap segala rintangan
yang menghadang dan terkadang pula menjadi sangat lemah dengan berbagai macam
kesulitan, kesedihan yang ada.
Kembali pada kondisi putus asa,
dalam kondisi seperti itu ada manusia yang memutuskan untuk mengakhiri
hidupnya. Ia berfikir bahwa dengan mengakhiri hidupnya maka semua kesedihan dan
permasalahan yang ada akan berakhir. Apakah benar demikian? Jawabannya jelas
tidak, (“Wahai kiranya kematian itulah yang
menyelesaikan segala sesuatu“ QS. Al Haqqah ayat 27).
Bagi orang-orang yang beriman,
kematian bukanlah sekedar kematian yang memutuskan segala kegiatan ataupun
terputus dari segala kehidupan. Sesungguhnya mereka yakin dan percaya akan
adanya kehidupan yang kekal abadi setelah kematian. Jadi kematian tidak akan
mengakhiri apapun tetapi kematian justru akan membuka permasalahan baru yang
tidak bisa manusia selesaikan kecuali dengan rahmat Allah SWT, karena setiap
manusia yang mati karena bunuh diri akan mendapatkan balasan ; “Barangsiapa yang
membunuh dirinya sendiri dengan suatu cara yang ada di dunia, niscaya pada hari
kiamat, niscaya ia akan disiksa dengan cara seperti itu pula.” (HR.
Bukhari dan Muslim).
Karena percaya atau tidak
percaya, beriman atau tidak beriman kehidupan kekal setelah kematian itu tetap
ada. Setiap manusia yang mati akan dibangkitkan dan mendapatkan balasan untuk
setiap perbuatannya, “Apabila bumi
digoncangkan dengan goncangannya (yang dahsyat), dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat
(yang dikandung) nya, dan manusia
bertanya: “Mengapa bumi (jadi begini)?”, pada hari itu bumi menceritakan beritanya,
karena sesungguhnya Tuhanmu telah
memerintahkan (yang sedemikian itu) kepadanya. Pada hari itu manusia ke luar dari kuburnya
dalam keadaan yang bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan)
pekerjaan mereka. Barangsiapa yang
mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)
nya. Dan barangsiapa yang
mengerjakan kejahatan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)
nya pula. Qs. Az Zalzalah :1-8)
Sementara itu manusia yang
lainnya memutuskan untuk diam sejenak, menjalani hidup tanpa tujuan, tanpa
mimpi, tanpa harapan layaknya mayat hidup. Keyakinannya akan kuasa Allah
terhadap hidup makhlukNya menghalanginya untuk mengakhiri hidupnya dengan cara
yang tidak Allah ridhoi. Dalam hatinya terpatri sebuah keyakinan bahwa hidup,
mati dan jodoh manusia sudah Allah atur dengan sedemikian rupa. Hilangnya harapan
itu, hilanganya tujuan itu, munculnya rasa keputusasaan itu karena rasa lelah
yang tidak sanggup lagi ditopang oleh kakinya, tidak sanggup lagi dipikul oleh
pundaknya. Rasa putus asa itu muncul karena melemahnya iman, melamahnya rasa
percaya akan janji-janji Allah terhadap orang yang sabar.
Sampai pada akhirnya semua itu
akan berakhir dengan cara yang ajaib.
Allah hadirkan seseorang yang bisa mengembalikan semangat manusia yang putus
asa itu, Allah berikan pembelajaran, inspirasi melalui sebuah kejadian, entah
di jalan, di rumah, dimana saja, dan Allah beri hidayah melalui sebuah nasehat
dari sebuah buku, ceramah di radio, tv atau dari manasaja yang tidak bisa kita
duga.
Ada
banyak kisah inspirasi kebangkitan seorang anak manusia dari keputusasaannya
yang bisa kita baca atau pernah kita dengar dalam sebuah acara di TV atau
bahkan kita temui langsung. Dan penulis selalu memiliki kenyakinan bahwa tidak
mungkin hal-hal hebat seperti itu bisa terjadi tanpa hadirnya rahmat, tanpa
hadirnya kasih sayang Allah kepada makhlukNya. Maka sangat penting bagi setiap
manusia untuk memberikan ruang di dalam hatinya untuk Allah. Karena Allah selalu ada bagi siapa saja yang
mengingatnya, “Karena
itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu” (QS. Al
Baqarah: 152) .Bagi
siapa saja yang meyakini kekuasaanNya mengatur takdir hidup makhlukNya.
Dan ketika harapan telah hilang,
ketika harapan itu tidak mampu lagi tumbuh dalam hatimu, cara terbaik untuk
mengkhiri kesedihan itu adalah mengihklaskannya. Jika kamu ikhlas maka sebuah
kisah akan berakhir.......kisah kesedihan.....
Ini bukan saran atau nasehat,
ini hanyalah sebuah kesimpulan yang penulis ambil dari beberapa kejadian yang
ada. Bahwa rasa putus asa yang muncul dalam diri seseorang itu tidak selalu
berakhir pada keberanian diri untuk bunuh diri/mengakhiri hidup. Rasa putus asa
pada sebagian orang hanya akan mematikan sebuah harapan namun ia akan tetap
melanjutkan hidup. Meskipun itu membuatnya seperti mayat hidup karena matinya harapan sama dengan matinya tujuan
dan mimpi.
Dan Allah tidak akan tinggal
diam dengan hambanya yang masih tetap mau melanjutkan hidup walau ia telah
kehilangan arah. HidayahNya, kasih sayangNya akan selalu ada untuk hambaNya. Apalagi
kepada hambaNya senantiasa mengingatNya. Karena sejatinya rasa putus asa itu
muncul karena manusia tidak bisa ikhlas menerima keputusan Allah akan jalan
hidupnya. Jika saja manusia mau ikhlas maka pasti kesedihan itu akan berakhir
dan rasa putus asa tidak akan pernah ada...
Jadi jika mereka bisa
melanjutkan hidup sebagai pemenang atas rasa putus asa lalu kenapa kamu TIDAK? Jangan
penuhi hatimu dengan mimpi-mimpi walau mimpi itu adalah nyawa dalam hidupmu. Tetapi
penuhi hatimu dengan mimpi dan Allah. Iya Allah, karena Allah akan memudahkan
jalanmu menuju mimpi. Karena Allah akan menguatkanmu, mengembalikan semangatmu
ketika rintangan dan bahkan kegagalan itu muncul. Dan Allah akan membuatmu
mudah untuk ikhlas dan ikhlas adalah sejanta terampuh untuk melawan
kesedihan....... ikhlas berarti akhir dari sebuah kisah....
Senin, 22 Mei 2017
Kita bisa
melawan & menjadi pemenang dari virus mematikan “PUTUS ASA”
Mohon maaf jika ada hal yang
tidak berkenan......
Kamis, 04 Mei 2017
TEMAN
BIASA.....
Pada
awal berjumpa kita hampir tidak pernah saling menatap apalagi saling bertegur
sapa. Bukan karena sombong atau ada benci diantara kita, tetapi karena
masing-masing dari kita sama-sama merasa asing. Itu wajar sebenarnya, karena
semua teman di kelas memang merasa asing terhadapku. Pun diriku, sebagian besar
dari kalian juga sangat asing bagiku.
Satu
tahun berlalu tidak ada yang berubah, dirimu, diriku dan sebagian teman yang
lain masih terasa asing bagiku. Sampai-sampai aku berfikir bahwa sampai pada
tahun kedua atau bisa dibilang tahur terakhir kebersamaan kita, aku tidak akan
bisa menjadikanmu dan menjadikan teman sebagian yang lain menjadi biasa dalam
hari-hariku.
Tetapi
ternyata aku salah. Takdir menempatkan kita pada keadaan yang membuat kita
sering bertatap muka. Sehingga sapa-menyapapun menjadi hal yang biasa bagi
kita. Dan tidak lama kemudian teman-teman yang semula masih asing perlahan
menjadi biasa bagiku. Allah menyiapkan skenario yang membuatmu, diriku dan
teman yang lain banyak bersinggungan. Sehingga lama kelamaan kita tidak hanya
sekedar menyapa tetapi sekali dua kali bercanda.
Aku
kira semuanya cukup disitu saja, tetapi ternyata TIDAK. Dipenghujung tahun
kebersamaan kita, sekali dua kali kamu mengirim sms (pesan singkat) untuk
meminta saran, pendapat terkait permasalahan yang sedang kamu hadapi. Tetapi anehnya itu tidak
kemudian menjadikan kita sebagai teman dekat.
Kita
tetap sibuk dengan hoby dan teman dekat kita masing-masing. Setiap kali bertemu
saling menyapa dan bicara jika ada kepentingan itu sudah cukup. Sampai akhirnya
setelah kita terpisah. Aku pergi kemana? Kamu pergi kemana? Teman-teman pergi
kemana?
Aku
pikir kita tidak akan pernah berkomunikasi lagi, mengingat kita bukanlah teman
dekat. Kita hanya teman belajar biasa. Dan ternyata lagi-lagi aku salah tentang
hubungan ini. Kamu tetap menghubungiku, walau tidak sering. Hanya saat kamu
sedang ada masalah atau pertanyaan tentang suatu hal yang membutuhkan saran dan
juga pendapatku.
Ya.....semuanya
terus berlanjut seperti itu sampai dengan beberapa bulan yang lalu. Kamu masih
menghubungiku, untuk sharing, berdiskusi tentang suatu hal, menasehatiku,
meminta saran dan pendapat.
Beberapa
bulan yang lalu.....ya memang beberapa bulan yang lalu. Karena suatu hal kini kamu sudah tidak lagi bercerita dan
berkisah tentang hidup dan mimpimu. Awalnya aku berfikir semua akan baik-baik
saja. Karena selama ini kita bukan teman dekat yang terbiasa pergi bersama,
yang terbiasa melakukan hal-hal baru dan konyol bersama, yang terbiasa chating
untuk hal-hal yang tidak penting, yang terbiasa saling merindu alay jika satu
minggu saja tidak bertemu atau bertukar kabar. Kita hanya teman biasa yang
dalam satu tahun bisa dihitung berapa kali berkomunikasi. Kita hanya teman
biasa yang tidak perlu diikut sertakan untuk setiap detil rasa dan peristiwa
dalam hidup. Bahkan sudah 6 lebih kita tidak berjumpa.
Tapi......
Lagi-lagi
aku salah......ternyata semua tidak baik-baik saja. Ternyata aku merindukanmu. Aku
merindukan ceritamu, mimpimu, pemikiranmu, juga nasehatmu. Aku baru menyadari
bahwa ternyata dipertemanan yang biasa ini melahirkan rasa nyaman, rasa peduli,
dan juga rasa penting.
Bahkan
anehnya lagi, kadang-kadang aku mulai mencemasmu, “apakah teman itu baik-baik
saja sekarang?”, “Apakah temanku bisa mengatasi setiap kesulitan yang
menghampirinya?”, “Apa mimpinya selanjutnya?”, “Apakah ia bersama dengan
orang-orang baik yang tulus menjalin hubungan dengannya?”
Teman
biasa bagaimana aku bisa merindukanmu? Aku tidak memahami rasa semacam ini. Yang
aku pahami orang yang kita rindukan adalah orang yang sering bersama kita,
dekat dengan kita. Tapi....
Kamu
bukanlah teman dekat yang sering membersamaiku dalam dunia nyata maupun dalam
dunia maya (facebook, bbm, whatshap dll). Dan aku merindukanmu....
Terimakasih
untuk ruang yang telah kau sediakan untukku, sehingga aku bisa menjadi salah
satu bagian dari pazzel hidupmu. Maafkan jika ada titik noda yang aku
tinggalkan dalam ruang itu. Semoga mimpimu bisa terwujud sehingga sebagian pazzel
hidupmu bisa segera selasai terangkai. Karena banyak orang yang sedang menanti-nanti
pazzel hidupmu untuk dijadikan motivasi
dan sumber inspirasi.
Sekali
lagi terimakasih untuk ruang yang telah
engkau beri, terimakasih telah melibatkanku dalam kisahmu...... terimakasih
Jumat, 05 Mei 2017
Coretan hati yang terinspirasi dari sebuah
hubungan...
Terimakasih untuk ilmunya,........
Bahkan aku juga baru tau rasa seperti bisa
hadir....
Langganan:
Komentar (Atom)

