Ikhlas
Berarti Akhir Dari Sebuah Kisah....
Kesedihan memang harus ada dalam
cerita kehidupan anak manusia. Karena hanya dari kesedihan manusia bisa belajar
mensyukuri dengan sebenar-benarnya setiap anugerah kebahagiaan meskipun itu
hanya sebuah senyuman dari seseorang yang diidolakan. Karena hanya dari
kesedihan manusia bisa mengerti betapa pentingnya menjaga sumber kebahagiaan. Seperti
senantiasa menghargai usaha dan cara orang tua menyayangi kita.
Jika kesedihan itu tidak ada,
rasanya mustahil sekali manusia bisa benar-benar mengerti apa itu rasa bahagia.
Jika kesedihan itu tidak ada maka rasanya mustahil sekali manusia yang satu
dengan yang lain bisa saling menghargai, bisa saling percaya dan saling
berkorban.
Kesedihan, sesuatu yang
menyakitkan tetapi ternyata itu adalah pintu menuju kebahagiaan.
Tetapi manusia adakalanya
menemui keputusasaan karena kesedihan begitu setia mengisi hari-harinya. Ya...meskipun
dalam penciptaannya manusia adalah makhluk yang paling sempurna. Tetapi itu
tidak kemudian menjadikan manusia sebagai makhluk yang sempurna dalam menjalani
kisah penuh rahasia di bumi tempat kita berpijak sekarang. Manusia tetaplah
manusia yang tidak sempurna, penuh dengan kekurangan. Adakalanya melakukan hal
yang benar, adakalanya juga manusia melakukan hal yang salah. Adakalanya menjadi sangat kuat terhadap segala rintangan
yang menghadang dan terkadang pula menjadi sangat lemah dengan berbagai macam
kesulitan, kesedihan yang ada.
Kembali pada kondisi putus asa,
dalam kondisi seperti itu ada manusia yang memutuskan untuk mengakhiri
hidupnya. Ia berfikir bahwa dengan mengakhiri hidupnya maka semua kesedihan dan
permasalahan yang ada akan berakhir. Apakah benar demikian? Jawabannya jelas
tidak, (“Wahai kiranya kematian itulah yang
menyelesaikan segala sesuatu“ QS. Al Haqqah ayat 27).
Bagi orang-orang yang beriman,
kematian bukanlah sekedar kematian yang memutuskan segala kegiatan ataupun
terputus dari segala kehidupan. Sesungguhnya mereka yakin dan percaya akan
adanya kehidupan yang kekal abadi setelah kematian. Jadi kematian tidak akan
mengakhiri apapun tetapi kematian justru akan membuka permasalahan baru yang
tidak bisa manusia selesaikan kecuali dengan rahmat Allah SWT, karena setiap
manusia yang mati karena bunuh diri akan mendapatkan balasan ; “Barangsiapa yang
membunuh dirinya sendiri dengan suatu cara yang ada di dunia, niscaya pada hari
kiamat, niscaya ia akan disiksa dengan cara seperti itu pula.” (HR.
Bukhari dan Muslim).
Karena percaya atau tidak
percaya, beriman atau tidak beriman kehidupan kekal setelah kematian itu tetap
ada. Setiap manusia yang mati akan dibangkitkan dan mendapatkan balasan untuk
setiap perbuatannya, “Apabila bumi
digoncangkan dengan goncangannya (yang dahsyat), dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat
(yang dikandung) nya, dan manusia
bertanya: “Mengapa bumi (jadi begini)?”, pada hari itu bumi menceritakan beritanya,
karena sesungguhnya Tuhanmu telah
memerintahkan (yang sedemikian itu) kepadanya. Pada hari itu manusia ke luar dari kuburnya
dalam keadaan yang bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan)
pekerjaan mereka. Barangsiapa yang
mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)
nya. Dan barangsiapa yang
mengerjakan kejahatan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)
nya pula. Qs. Az Zalzalah :1-8)
Sementara itu manusia yang
lainnya memutuskan untuk diam sejenak, menjalani hidup tanpa tujuan, tanpa
mimpi, tanpa harapan layaknya mayat hidup. Keyakinannya akan kuasa Allah
terhadap hidup makhlukNya menghalanginya untuk mengakhiri hidupnya dengan cara
yang tidak Allah ridhoi. Dalam hatinya terpatri sebuah keyakinan bahwa hidup,
mati dan jodoh manusia sudah Allah atur dengan sedemikian rupa. Hilangnya harapan
itu, hilanganya tujuan itu, munculnya rasa keputusasaan itu karena rasa lelah
yang tidak sanggup lagi ditopang oleh kakinya, tidak sanggup lagi dipikul oleh
pundaknya. Rasa putus asa itu muncul karena melemahnya iman, melamahnya rasa
percaya akan janji-janji Allah terhadap orang yang sabar.
Sampai pada akhirnya semua itu
akan berakhir dengan cara yang ajaib.
Allah hadirkan seseorang yang bisa mengembalikan semangat manusia yang putus
asa itu, Allah berikan pembelajaran, inspirasi melalui sebuah kejadian, entah
di jalan, di rumah, dimana saja, dan Allah beri hidayah melalui sebuah nasehat
dari sebuah buku, ceramah di radio, tv atau dari manasaja yang tidak bisa kita
duga.
Ada
banyak kisah inspirasi kebangkitan seorang anak manusia dari keputusasaannya
yang bisa kita baca atau pernah kita dengar dalam sebuah acara di TV atau
bahkan kita temui langsung. Dan penulis selalu memiliki kenyakinan bahwa tidak
mungkin hal-hal hebat seperti itu bisa terjadi tanpa hadirnya rahmat, tanpa
hadirnya kasih sayang Allah kepada makhlukNya. Maka sangat penting bagi setiap
manusia untuk memberikan ruang di dalam hatinya untuk Allah. Karena Allah selalu ada bagi siapa saja yang
mengingatnya, “Karena
itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu” (QS. Al
Baqarah: 152) .Bagi
siapa saja yang meyakini kekuasaanNya mengatur takdir hidup makhlukNya.
Dan ketika harapan telah hilang,
ketika harapan itu tidak mampu lagi tumbuh dalam hatimu, cara terbaik untuk
mengkhiri kesedihan itu adalah mengihklaskannya. Jika kamu ikhlas maka sebuah
kisah akan berakhir.......kisah kesedihan.....
Ini bukan saran atau nasehat,
ini hanyalah sebuah kesimpulan yang penulis ambil dari beberapa kejadian yang
ada. Bahwa rasa putus asa yang muncul dalam diri seseorang itu tidak selalu
berakhir pada keberanian diri untuk bunuh diri/mengakhiri hidup. Rasa putus asa
pada sebagian orang hanya akan mematikan sebuah harapan namun ia akan tetap
melanjutkan hidup. Meskipun itu membuatnya seperti mayat hidup karena matinya harapan sama dengan matinya tujuan
dan mimpi.
Dan Allah tidak akan tinggal
diam dengan hambanya yang masih tetap mau melanjutkan hidup walau ia telah
kehilangan arah. HidayahNya, kasih sayangNya akan selalu ada untuk hambaNya. Apalagi
kepada hambaNya senantiasa mengingatNya. Karena sejatinya rasa putus asa itu
muncul karena manusia tidak bisa ikhlas menerima keputusan Allah akan jalan
hidupnya. Jika saja manusia mau ikhlas maka pasti kesedihan itu akan berakhir
dan rasa putus asa tidak akan pernah ada...
Jadi jika mereka bisa
melanjutkan hidup sebagai pemenang atas rasa putus asa lalu kenapa kamu TIDAK? Jangan
penuhi hatimu dengan mimpi-mimpi walau mimpi itu adalah nyawa dalam hidupmu. Tetapi
penuhi hatimu dengan mimpi dan Allah. Iya Allah, karena Allah akan memudahkan
jalanmu menuju mimpi. Karena Allah akan menguatkanmu, mengembalikan semangatmu
ketika rintangan dan bahkan kegagalan itu muncul. Dan Allah akan membuatmu
mudah untuk ikhlas dan ikhlas adalah sejanta terampuh untuk melawan
kesedihan....... ikhlas berarti akhir dari sebuah kisah....
Senin, 22 Mei 2017
Kita bisa
melawan & menjadi pemenang dari virus mematikan “PUTUS ASA”
Mohon maaf jika ada hal yang
tidak berkenan......
Tidak ada komentar:
Posting Komentar