Senin, 22 Mei 2017



Ikhlas Berarti Akhir Dari Sebuah Kisah....

Kesedihan memang harus ada dalam cerita kehidupan anak manusia. Karena hanya dari kesedihan manusia bisa belajar mensyukuri dengan sebenar-benarnya setiap anugerah kebahagiaan meskipun itu hanya sebuah senyuman dari seseorang yang diidolakan. Karena hanya dari kesedihan manusia bisa mengerti betapa pentingnya menjaga sumber kebahagiaan. Seperti senantiasa menghargai usaha dan cara orang tua menyayangi kita.

Jika kesedihan itu tidak ada, rasanya mustahil sekali manusia bisa benar-benar mengerti apa itu rasa bahagia. Jika kesedihan itu tidak ada maka rasanya mustahil sekali manusia yang satu dengan yang lain bisa saling menghargai, bisa saling percaya dan saling berkorban.
Kesedihan, sesuatu yang menyakitkan tetapi ternyata itu adalah pintu menuju kebahagiaan.

Tetapi manusia adakalanya menemui keputusasaan karena kesedihan begitu setia mengisi hari-harinya. Ya...meskipun dalam penciptaannya manusia adalah makhluk yang paling sempurna. Tetapi itu tidak kemudian menjadikan manusia sebagai makhluk yang sempurna dalam menjalani kisah penuh rahasia di bumi tempat kita berpijak sekarang. Manusia tetaplah manusia yang tidak sempurna, penuh dengan kekurangan. Adakalanya melakukan hal yang benar, adakalanya juga manusia melakukan hal yang salah. Adakalanya  menjadi sangat kuat terhadap segala rintangan yang menghadang dan terkadang pula menjadi sangat lemah dengan berbagai macam kesulitan, kesedihan yang ada.

Kembali pada kondisi putus asa, dalam kondisi seperti itu ada manusia yang memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Ia berfikir bahwa dengan mengakhiri hidupnya maka semua kesedihan dan permasalahan yang ada akan berakhir. Apakah benar demikian? Jawabannya jelas tidak, (“Wahai kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala sesuatu“ QS. Al Haqqah ayat 27).  

Bagi orang-orang yang beriman, kematian bukanlah sekedar kematian yang memutuskan segala kegiatan ataupun terputus dari segala kehidupan. Sesungguhnya mereka yakin dan percaya akan adanya kehidupan yang kekal abadi setelah kematian. Jadi kematian tidak akan mengakhiri apapun tetapi kematian justru akan membuka permasalahan baru yang tidak bisa manusia selesaikan kecuali dengan rahmat Allah SWT, karena setiap manusia yang mati karena bunuh diri akan mendapatkan balasan ; Barangsiapa yang membunuh dirinya sendiri dengan suatu cara yang ada di dunia, niscaya pada hari kiamat, niscaya ia akan disiksa dengan cara seperti itu pula.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Karena percaya atau tidak percaya, beriman atau tidak beriman kehidupan kekal setelah kematian itu tetap ada. Setiap manusia yang mati akan dibangkitkan dan mendapatkan balasan untuk setiap perbuatannya, “Apabila bumi digoncangkan dengan goncangannya (yang dahsyat), dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung) nya, dan manusia bertanya: “Mengapa bumi (jadi begini)?”, pada hari itu bumi menceritakan beritanya, karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang sedemikian itu) kepadanya. Pada hari itu manusia ke luar dari kuburnya dalam keadaan yang bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka. Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula. Qs. Az Zalzalah :1-8)

Sementara itu manusia yang lainnya memutuskan untuk diam sejenak, menjalani hidup tanpa tujuan, tanpa mimpi, tanpa harapan layaknya mayat hidup. Keyakinannya akan kuasa Allah terhadap hidup makhlukNya menghalanginya untuk mengakhiri hidupnya dengan cara yang tidak Allah ridhoi. Dalam hatinya terpatri sebuah keyakinan bahwa hidup, mati dan jodoh manusia sudah Allah atur dengan sedemikian rupa. Hilangnya harapan itu, hilanganya tujuan itu, munculnya rasa keputusasaan itu karena rasa lelah yang tidak sanggup lagi ditopang oleh kakinya, tidak sanggup lagi dipikul oleh pundaknya. Rasa putus asa itu muncul karena melemahnya iman, melamahnya rasa percaya akan janji-janji Allah terhadap orang yang sabar.

Sampai pada akhirnya semua itu akan berakhir dengan cara  yang ajaib. Allah hadirkan seseorang yang bisa mengembalikan semangat manusia yang putus asa itu, Allah berikan pembelajaran, inspirasi melalui sebuah kejadian, entah di jalan, di rumah, dimana saja, dan Allah beri hidayah melalui sebuah nasehat dari sebuah buku, ceramah di radio, tv atau dari manasaja yang tidak bisa kita duga.

Ada banyak kisah inspirasi kebangkitan seorang anak manusia dari keputusasaannya yang bisa kita baca atau pernah kita dengar dalam sebuah acara di TV atau bahkan kita temui langsung. Dan penulis selalu memiliki kenyakinan bahwa tidak mungkin hal-hal hebat seperti itu bisa terjadi tanpa hadirnya rahmat, tanpa hadirnya kasih sayang Allah kepada makhlukNya. Maka sangat penting bagi setiap manusia untuk memberikan ruang di dalam hatinya untuk Allah.  Karena Allah selalu ada bagi siapa saja yang mengingatnya, Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu” (QS. Al Baqarah: 152) .Bagi siapa saja yang meyakini kekuasaanNya mengatur takdir hidup makhlukNya.

Dan ketika harapan telah hilang, ketika harapan itu tidak mampu lagi tumbuh dalam hatimu, cara terbaik untuk mengkhiri kesedihan itu adalah mengihklaskannya. Jika kamu ikhlas maka sebuah kisah akan berakhir.......kisah kesedihan.....

Ini bukan saran atau nasehat, ini hanyalah sebuah kesimpulan yang penulis ambil dari beberapa kejadian yang ada. Bahwa rasa putus asa yang muncul dalam diri seseorang itu tidak selalu berakhir pada keberanian diri untuk bunuh diri/mengakhiri hidup. Rasa putus asa pada sebagian orang hanya akan mematikan sebuah harapan namun ia akan tetap melanjutkan hidup. Meskipun itu membuatnya seperti mayat hidup karena  matinya harapan sama dengan matinya tujuan dan mimpi.

Dan Allah tidak akan tinggal diam dengan hambanya yang masih tetap mau melanjutkan hidup walau ia telah kehilangan arah. HidayahNya, kasih sayangNya akan selalu ada untuk hambaNya. Apalagi kepada hambaNya senantiasa mengingatNya. Karena sejatinya rasa putus asa itu muncul karena manusia tidak bisa ikhlas menerima keputusan Allah akan jalan hidupnya. Jika saja manusia mau ikhlas maka pasti kesedihan itu akan berakhir dan rasa putus asa tidak akan pernah ada...

Jadi jika mereka bisa melanjutkan hidup sebagai pemenang atas rasa putus asa lalu kenapa kamu TIDAK? Jangan penuhi hatimu dengan mimpi-mimpi walau mimpi itu adalah nyawa dalam hidupmu. Tetapi penuhi hatimu dengan mimpi dan Allah. Iya Allah, karena Allah akan memudahkan jalanmu menuju mimpi. Karena Allah akan menguatkanmu, mengembalikan semangatmu ketika rintangan dan bahkan kegagalan itu muncul. Dan Allah akan membuatmu mudah untuk ikhlas dan ikhlas adalah sejanta terampuh untuk melawan kesedihan....... ikhlas berarti akhir dari sebuah kisah....

Senin, 22 Mei 2017
Kita bisa melawan & menjadi pemenang dari virus mematikan “PUTUS ASA”
Mohon maaf jika ada hal yang tidak berkenan......

Tidak ada komentar:

Posting Komentar