Siapa yang bisa terbebas darinya..... tidak ada satu pun
manusia yang hidup yang di dunia ini yang bisa terbebas dari masalah. Bila
manusia terbebas dari masalah maka dapat dipastikan bahwa manusia tersebut telah meninggalkan dunia ini alias MATI.
Masalah.....
Setiap orang memiliki ritmenya masing-masing tentang
hadirnya masalah, ada yang ritmenya teratur, masalah-bahagia-masalah-bahagia
dan begitu seterusnya. Ada juga yang ritmennya tidak teratur dan mungkin
cenderung mengerikan, masalah-masalah-bahagia, masalah-masalah-masalah-bahagia.
Apapun bentuk ritme
masalah dalam hidup seseorang itu tidak bisa dijadikan kesimpulan akan baik dan
tidaknya perangai seseorang, tidak bisa dijadikan kesimpulan akan pintar dan
bodohnya seseorang. Karena kita semua hanya seorang pemeran drama kehidupan.
Meskipun kita bisa menulis naskah drama sendiri tetapi akhir dari drama itu
tidak berada digenggaman tangan kita, melainkan sepenuhnya berada pada kuasa Tuhan.
Manusia boleh berimajinasi, tetapi takdir Tuhanlah yang merajai.
Kita juga tidak boleh lupa dengan filosofi paku, bahwa hanya
paku yang luruslah yang akan terus menerima tempaan sampai akhirnya paku
tersebut bisa menyatukan sesuatu. Dan mungkin ini yang disebut takdir Tuhan adalah yang terbaik, meskipun
kadang terasa sangat menyakitkan diawalnya. Tetapi begitu indah dan mengharukan
diakhirnya.
Ya......Takdir Tuhan itu memang yang terbaik, karena Tuhan
adalah sutradara terbaik, penulis skenario terbaik. Tapi baiknya takdir Tuhan
tidak mudah dipahami oleh hati yang dipenuhi dengan ambisi kefanaan. Tidak
mudah dipahami oleh hati yang tengah mabuk mengejar cinta fana, yaitu
kesenangan dunia.
Tetapi....Tuhan......
Manusia ini tidak mengerti.....
Mengapa hati yang selalu dipupuk dengan rasa percaya akan
kemuliaan dan kebaikan takdirMu ini mengalami kebingungan seperti ini? Masalah
demi masalah yang datang menghadirkan rasa lelah yang seolah-olah akan berujung
pada keputus asaan. Tetapi tiba-tiba saja Engkau rahmatkan kekuatan yang
mengantarkan hati ini pada suasana yang lapang dan tenang. Sehingga akal ini
tak lagi berpikir tentang bagaimana bisa pergi dari tempat ini, tetapi akal ini
lebih sering berpikir tentang bagaimana menghadapi masalah-masalah ini sampai
habis.
Tetapi dan tetapi....... setelah sekian lama berlalu, hati
ini tiba-tiba sering berkata, Tuhan seberapapun bahagianya aku, seberapapun
kuatnya aku, aku tetap ingin semua ini berakhir.....
Tuhan perasaaan macam ini...... kenapa gelombang terus
membolak-balik rasa di hati ini....? Apakah ibadah, kata percaya, dan kata
cinta yang terucap selama ini hanya sebuah ritual dan rutinitas semata? Tetapi Tuhan
hati ini mengatakan tidak, hati ini selalu merindu, mengingat dan
menginginkanmu.
Apakah hati manusia ini kurang bersabar ? Kurang bersyukur ?
Sungguh Tuhan manusia ini ingin tetap bersikap dewasa, ingin tetap menjadi
manusia yang pandai bersyukur... jadi tolonglah agar semua ini tetap berakhir
indah untuk semua......
Kurangnya rasanya rasa sabar seringkali menyebabkan masalah
yang sederhana menjadi rumit dan seolah mustahil untuk diselesaikan dan
sedikitnya rasa syukur seringkali membuat manusia melupakan hal-hal indah yang
pernah terjadi dalam hidupnya. Hal-hal
indah yang membuatnya merasa bahagia dan berarti.......


