Selasa, 30 Oktober 2018

Masalah.....



Siapa yang bisa terbebas darinya..... tidak ada satu pun manusia yang hidup yang di dunia ini yang bisa terbebas dari masalah. Bila manusia terbebas dari masalah maka dapat dipastikan bahwa manusia tersebut  telah meninggalkan dunia ini alias MATI.
Masalah.....
Setiap orang memiliki ritmenya masing-masing tentang hadirnya masalah, ada yang ritmenya teratur, masalah-bahagia-masalah-bahagia dan begitu seterusnya. Ada juga yang ritmennya tidak teratur dan mungkin cenderung mengerikan, masalah-masalah-bahagia, masalah-masalah-masalah-bahagia.
 Apapun bentuk ritme masalah dalam hidup seseorang itu tidak bisa dijadikan kesimpulan akan baik dan tidaknya perangai seseorang, tidak bisa dijadikan kesimpulan akan pintar dan bodohnya seseorang. Karena kita semua hanya seorang pemeran drama kehidupan. Meskipun kita bisa menulis naskah drama sendiri tetapi akhir dari drama itu tidak berada digenggaman tangan kita, melainkan sepenuhnya berada pada kuasa Tuhan. Manusia boleh berimajinasi, tetapi takdir Tuhanlah yang merajai.
Kita juga tidak boleh lupa dengan filosofi paku, bahwa hanya paku yang luruslah yang akan terus menerima tempaan sampai akhirnya paku tersebut bisa menyatukan sesuatu. Dan mungkin ini yang disebut  takdir Tuhan adalah yang terbaik, meskipun kadang terasa sangat menyakitkan diawalnya. Tetapi begitu indah dan mengharukan diakhirnya.
Ya......Takdir Tuhan itu memang yang terbaik, karena Tuhan adalah sutradara terbaik, penulis skenario terbaik. Tapi baiknya takdir Tuhan tidak mudah dipahami oleh hati yang dipenuhi dengan ambisi kefanaan. Tidak mudah dipahami oleh hati yang tengah mabuk mengejar cinta fana, yaitu kesenangan dunia.
Tetapi....Tuhan......
Manusia ini tidak mengerti.....
Mengapa hati yang selalu dipupuk dengan rasa percaya akan kemuliaan dan kebaikan takdirMu ini mengalami kebingungan seperti ini? Masalah demi masalah yang datang menghadirkan rasa lelah yang seolah-olah akan berujung pada keputus asaan. Tetapi tiba-tiba saja Engkau rahmatkan kekuatan yang mengantarkan hati ini pada suasana yang lapang dan tenang. Sehingga akal ini tak lagi berpikir tentang bagaimana bisa pergi dari tempat ini, tetapi akal ini lebih sering berpikir tentang bagaimana menghadapi masalah-masalah ini sampai habis.
Tetapi dan tetapi....... setelah sekian lama berlalu, hati ini tiba-tiba sering berkata, Tuhan seberapapun bahagianya aku, seberapapun kuatnya aku, aku tetap ingin semua ini berakhir.....
Tuhan perasaaan macam ini...... kenapa gelombang terus membolak-balik rasa di hati ini....? Apakah ibadah, kata percaya, dan kata cinta yang terucap selama ini hanya sebuah ritual dan rutinitas semata? Tetapi Tuhan hati ini mengatakan tidak, hati ini selalu merindu, mengingat dan menginginkanmu.

Apakah hati manusia ini kurang bersabar ? Kurang bersyukur ? Sungguh Tuhan manusia ini ingin tetap bersikap dewasa, ingin tetap menjadi manusia yang pandai bersyukur... jadi tolonglah agar semua ini tetap berakhir indah untuk semua......

Kurangnya rasanya rasa sabar seringkali menyebabkan masalah yang sederhana menjadi rumit dan seolah mustahil untuk diselesaikan dan sedikitnya rasa syukur seringkali membuat manusia melupakan hal-hal indah yang pernah terjadi dalam hidupnya.  Hal-hal indah yang membuatnya merasa bahagia dan berarti.......




Tidak ada komentar:

Posting Komentar