Jumat, 02 Oktober 2015






Aku Pergi



Aku ingin pergi dan tak ingin disini lagi.
Em….aku pikir itu terlalu egois tapi….aku benar-benar ingin pergi.
Bukan karna tempat ini, ruang ini telah kehilangan sisi keindahan dan kebaikkannya. Bukan karena itu. Bagiku tempat ini, ruang ini dan setiap sudutnya akan selalu memancarkan keindahan dan kebaikkan.
Aku pergi karena aku sudah lelah dengan isi tempat ini. Aku memaafkan setiap kesalahan yang diperbuat. Tapi itu tidak berarti bahwa aku menerima kebiasaan buruk yang ada. Manusia memang harus saling memahami dan mengerti satu sama lain. Tapi itu bukan berarti bahwa seseorang boleh  mempertahankan kebiasaan atau sifat buruknya. Bagaiamana bisa seseorang hidup dengan damai sementara ia memiliki kebiasan atau sifat buruk yang merugikan orang lain?
Sifat menghargai dan mengerti disini adalah untuk memberikan kesempatan kepada seseorang untuk memperbaiki dirinya menjadi manusia yang lebih baik. Bukan untuk menerima dan membiarkan semua kebiasaan dan sifat buruk seseorang.
Nasehat dan teguran telah datang. Tapi lihat……! Tidak ada yang berubah.
Aku tak mau membuang waktu lagi, aku berharap benar-benar bisa segera pergi dari sini. Berharap dengan itu semua akan mengerti bahwa semua telah mempertahankan sesuatu yang salah.
Aku pergi bukan untuk memutuskan hubungan, aku hanya merasa mempertahankan sesuatu yang sia-sia.  Aku akan ada jika kalian membutuhkan bimbingan. Aku berharap dengan kepergianku ini “semua akan sadar dan berubah”.

Curahan hati anak pinggiran
Sabar ya sobat, terus berjuang, hanya itu yang bisa aku katakana untuknya.

Kamis, 27 Agustus 2015



Terimakasih Sahabat……..
Tidak terasa lima tahun telah berlalu. Ada banyak cerita dan rasa yang tercatat dan begitu membekas di dalam hati ini. Yang paling menganggumkan adalah  saat kita dipertemukan dalam satu rumah disebuah gang sempit untuk pertamakalinya. Kita tidak saling mengenal sebelumnya tapi entah mengapa aku merasa bahwa kita telah lama saling jatuh cinta antara satu dengan yang lain.
Dalam sekejap saja hubungan keluarga terbentuk, kita saling membantu, saling peduli dan saling mengasihi. Begitu ajaib menurutku karena semua  terus seperti itu sampai hari ini, hari terakhir kita berada di rumah ini.
Dan aku tidak menyangka bahwa perpisahan ini begitu menyakiti hatiku. Seolah tak ikhlas, tak rela kita harus berpisah seperti ini.
Aku akui terkadang diam-diam aku marah, kecewa dan bahkan begitu sebel dengan salah satu diantara kalian. Aku akui ada satu atau dua dari sikap kalian yang sering membuatku jengkel. Tapi bagiku itu semua wajar dan tidak bisa aku dijadikan alasan untuk aku pergi meninggalkan kalian dan mencari sahabat baru yang lebih sempurna.
Bagiku tidak ada sahabat yang sempurna.
Bagiku tidak ada hubungan yang sempurna.
Kalian adalah yang terbaik. Hubungan ini adalah yang terbaik.
Kita tertawa dan menangis bersama. Kita saling menasehati dan kita bahu-membahu mencari solusi jika ada satu diantara kita yang tengah dalam kesulitan.
Yang paling aku syukuri dari semua adalah aku mendapati kalian sebagai teman, sahabat dan keluarga yang baik. Segala hal yang kita lakukan, segala hal yang kita senangi adalah hal yang positif. Sehingga kita tidak saling meracuni satu sama lain. Sehingga kita selalu saling support dalam kebaikan.
Entah kalian rasakan syukur dan sakit yang sama atau tidak. Yang jelas esok kita tidak akan bersama lagi.
Sesibuk apapun kita dengan mimpi kita, tujuan kita semoga hati kita tetap terpaut. Sehingga rasa sayang dan hubungan keluarga ini tetap ada selamanya. Karena rasa cinta diantara kita tidak dapat mengalahkan takdir yang telah tertulis. Rasa cinta diantara kita tidak cukup bisa membawa kita pada takdir yang sama.
Kita punya takdir masing-masing yang harus dijalani. Kita punya mimpi-mimpi yang harus dirai. Terimakasih sahabatku, telah mengizinkan aku untuk menjadi bagian dari kalian. Terimakasih sahabatku karena telah sabar menghadapiku. Aku yang manja dan sangat kekanak-kanakan. Tolong maafkan semua kesalahanku.
Mari kita saling mendokan yang terbaik diantara kita dan semoga suatu hari nanti takdir berkenan mengumpulkan kita kembali…..
 Jumat, 28 Agustus 2015
RR, Hilya

Kamis, 13 Agustus 2015



Aku Merinduka Mu
Tidak aku letakkan pengharapan di atas tangan siapapun bahkan meskipun itu di tangan keluargaku, orang tuaku. Aku tahu betul pengharapan  pada manusia hanya akan menghasilkan kekecewaan dan luka yang sulit untuk disembuhkan.
Cara menjalani hidup ini aku lakukan dengan mencintai dan berbuat baik kepada semua tanpa diiringi harapan cinta atau kebaikan itu akan berbalik kepadaku. Bukan karena aku tidak butuh cinta atau kebaikan dari orang lain, hanya saja seperti kataku sebelumnya bahwa harapan kepada manusia itu hanya akan menghasilkan kekecewaan dan luka yang sulit untuk disembuhkan.
Ketidaksempurnaan manusia seringkali menyebabkan ketidaksingkronan antara harapan dan kenyataan. Maka daripada terluka aku serahkan segalanya kepada Allah. Biarlah Dia yang memilih dan menentukan siapa yang akan mencintai dan berbuat baik kepadaku. Tanpa perlu aku mempertanyakan atau mempermasalah apakah orang tersebut pernah menerima cinta dan kebaikanku.
Tapi ternyata aku lelah, benar-benar lelah dengan semuanya. Aku ingin terus berbuat baik untuk semua, aku ingin terus mencintai semua dan aku ingin terus memberikan senyum ceria dan wajah yang sedap dipandang untuk semua tapi kali ini aku tidak sanggup lagi.
Aku ingin kalian peduli….
Aku ingin kalian peka akan situasi dan kondisiku saat ini…..
Jika tak bisa mencarikan solusi ucapkanlah kata-kata motivasi untuk menguatkanku, untuk mendorongku. Atau paling tidak ucapkanlah kata maaf kemudian berikan sebuah pelukan hangat, pelukan yang akan membuatku mengerti dan merasakan bahwa kalian juga turut bersedih akan kesedihanku.
Sungguh aku ini juga manusia, manusia yang tidak sempurna, manusia yang punya hati untuk merasa.
Aku sadar mengharap seperti itu hanya akan menambah luka.
Okay aku buang semua harapan dan rasa ingin itu.
Tapi aku mohon berikan jalan bagiku untuk pergi. Pergi ke tempat yang jauh. Tempat yang membuatku semakin dekat dengan Engkau. Aku ingin beribadah, mentadaburi alam semesta ciptaanMu dan juga bisa merasakan ketenangan dan keteduhannya.
Tolong bantu aku, bawa aku ke tempat yang jauh. Jika aku sudah cukup kuat dan lapang maka tidak mengapa aku kembali kesini tapi aku benar-benar memohon kepadaMu, bawa aku pergi dari sini saat ini dan sekarang.
Aku merindukanMu ya Allah benar-benar rindu. Hingga aku ingin terus dekat denganMu dan dekat dengan Mu tanpa disibukkan oleh sesuatupun.
Aku sangat merindukan Mu………
Jerit hati anak pinggiran
Mendengar  jerit hati itu aku dapat mengambil satu pelajaran penting. Bahwa tidak seharusnya kita cukup membalas senyum orang disekekliling kita atau bahkan hanya menikmati senyum itu saja. Kita harus belajar peka karena bisa jadi mereka yang selalu tersenyum untuk kita, mereka yang selalu memotivasi kita adalah orang yang paling sering menangis dibelakang kita, adalah orang yang sebenarnya paling butuh motivasi, dorongan untuk kuat dan bangkit dari peliknya kehidupan fana ini.

Jumat, 22 Mei 2015


Fahmi yang mana?

Seperti sudah tersabdakan  waktu berlalu dari detik ke detik, menit ke menit, dari hari ke hari. Ia tidak mendengarkan siapapun dan ia juga tidak memperdulikan apapun ia hanya terus berlalu.
Diriku kini telah merasa nyaman dengan hari yang terus berganti, kegalauan tetang rasa ingin menikah yang kemudian diperparah dengan kemunculan nama “Fahmi” perlahan hilang dari pikiran dan hati ini. Rutinitas  yang dipenuhi dengan proposal, pengisian lembar formulir, mendengar  keluhan  terlalui dengan nikmatnya.
Dan pagi ini, “Monday” aku arahkan sepeda motorku ke Solo. Menghadiri agenda rutinku yang kira-kira sudah berjalan satu bulan ini, “rapat dengan kepala direksi  di kantor cabang SOLO”.
Senyumku mengembang begitu berjumpa dan berjabat tangan dengan rekan-rekan kerja ku yang cantik, solikhah dan solih, hehehehe. Tidak lama kemudian kehadiranku disusul pak Bos. Segera wajah serius namun tetap santaipun terpampang disetiap wajah peserta rapat pagi itu.
                                                                        ###
Tidak terasa 1 jam berlalu begitu saja, Pak bos sudah sampai pada tahap penutup. “Kalau tidak ada yang ditanyakan kita tutup rapat pagi ini dengan bacaan hamdalah”.
“Alhamdulillah”, serentak
Tetap semangat dan…….oya saya lupa, seperti ada yang mengingatkan wajah pak bos begitu  sumringah dan berkata, “Sekarang tim majalah bertambah satu orang lain namanya mas Fahmi”.
Jedeerrrrrr……
Deng-deg-deg-…..
Jatung yang semula berdetak normal tiba-tiba menjadi tidak beraturan bahkan tubuh yang semula rilekspun menjadi bergetar dan sedikit tidak nyaman.
“Fahmi” ternyata pesonamu belum hilang dari hatiku, ucapku dalam hati.
“Oke tetap semangat, wassalamuallaikum wr wb”.
“Walaikumsalam wr wb”.
Segera setelah menjawab salam aku izin diri untuk kembali ke kantor pusat. Aku tidak ingin berlama-lama seperti biasanya. Aku ingin segera keluar dan menenangkan diri.
                                                                     ###
Sosok seperti apakah Fahmi yang ku rasa berjodoh denganku?
Bagaimana bisa ia membuatku sangat ingin segera halal baginya, sementara aku tidak pernah melihat wajahnya atau hanya sekedar mendengar suaranya.
Bagaimana mungkin jiwa yang sembuh dari kegalauan tiba-tiba harus kembali merasakannya hanya dengan mendengar namanya…..?
Hemmttt…….
Ini benar-benar menguras energy dan waktuku…..
Siapakah Fahmi….?
Fahmi yang mana….?
Ooohhhh……..entah akan berakhir seperti apa pergulatan hati ini…..