Jumat, 03 April 2015



RINDU MENIKAH……..
Ariyani……gadis yang dianugerahi senyum manis itu telah mengalami transisi dari yang semula tomboy dan cuek menjadi gadis feminim yang penuh kelembutan. Sosok pendiam melekat kuat pada dirinya saat ini. Ariyani tidak pernah tertarik untuk membicarakan keburukan orang lain apalagi sampai nguping sana-sini demi mendapatkan bahan obrolan dengan teman-temannya.
Tapi……
Itu tidak berarti bahwa Aryani adalah sosok yang masa bodoh dengan kehidupan orang-orang disekelilingnya. Ariyani adalah sosok pendengar  dan pengamat yang baik, ia juga sangat perhatian  dengan orang-orang di sekelilingnya. Perhatian itu ia buktikan dengan kepekaannya membaca suasana hati seseorang orang melalui ekspresi wajah dan tatapan orang-orang di sekelilingya. Perhatiannya ia tunjukkan dengan kehadirannya setiap duka dan bahagia orang-orang di sekelilingnya.
Ariyani adalah pendengar & pengamat yang baik, kebaikan itu terlihat melalui mulutnya yang selalu terkunci rapat. Baik dan buruk sifat orang-orang disekelilingnya ia simpan rapat, baik dan buruk keadaan orang-orang disekelilingnya ia pun simpan rapat dalam hatinya.
Ariyani akan berbicara saat diperlukan, yaitu saat orang lain salah sangka dengan sifat seseorang yang ia pahami, saat orang lain salah menafsirkan kondisi seseorang sehingga menimbulkan gossip atau kabar berita yang tidak benar. Ariyani akan bertanya kenapa? Saat salah seorang di sekelilingnya bersedih hati dan tidak ada yang memperdulikannya. Ariyani meluruskan yang bengkok,  Ariyani menutup rapat yang cacat, Ariyani merangkul yang tersisihkan.
Sifatnya yang demikian itu menjadi orang-orang disekelilingnya merasa nyaman berbagi beban dan masalah. Selain terjaga kerahasiannya mereka juga akan mendapatkan solusi yang baik, sebab Ariyani adalah sosok yang bijak.
Orang datang silih berganti dengan berbagai macam keluh kesah permasalahan kehidupan sehingga tanpa Ariyani sadari bahwa 10 tahun telah berlalu.
Orang-orang yang didengarnya, orang-orang yang ia bantu keluar dari masalah telah mengalami transisi kehidupan. Ada yang menjadi pengusaha sukses, ada yang menjadi motivator, ada yang sedang bahagia dengan belahan hatinya, ada yang sedang menikmati kebahagiaan dan kehangatan  bersama keluarga dan adapula yang tengah berbahagia dengan pernikahannya.
Dan kebahagiaan yang terakhir inilah yang mengusik hati Ariyani.
Tiba-tiba saja Ariyani rindu menikah, tiba-tiba saja Ariyani sangat ingin segera menikah. Keadaan itu jelas membuatnya risau hingga level 100 %, sebab selama hidupnya ia tidak pernah memikirkan tentang pernikahan.
“Dengan laki-laki seperti apa ia akan menikah? Kapan ia akan menikah? Dan seperti apakah prosesi pernikahan yang ia inginkan?”  Ariyani benar-benar tidak pernah memikirkan semua itu.
Bukan karena ia tidak tertarik pada laki-laki, bukan pula ia merasa lebih nyaman dengan wanita. Tetapi karena ia sudah terlalu asik dengan dunia mendengar, mengamati dan membaca. Ia sudah terlalu asyik dengan masalah hidup orang-orang di sekelilingnya.
Jadi sekali lagi wajar sangat jika Ariyani risau level teratas yaitu 100% ketika dirinya tiba-tiba rindu menikah. Dan yang membuatnya tidak habis fikir adalah munculnya rasa ingin yang teramat besar dalam dirinya untuk menikah dengan seorang soleh yang bernama Fahmi. Fahmi adalah laki-laki keturunan Arab, ia sabar, lembut, bertanggung jawab dan sangat penyayang. Ia adalah seorang dokter, ia adalah seorang penghafal quran.
Bagaimana ceritanya rasa itu muncul dan begitu menggebu dalam hatinya? Bagaimana pula nama Fahmi dengan karakter tersebut di atas bisa muncul dan sangat mengganggu pikirannya? Sementara ia tidak pernah memiliki teman atau sekedar mengenal seorang lelaki yang memiliki nama Fahmi. Sementara ia tidak pernah berhubungan dengan orang-orang yang bekerja dalam dunia kesehatan
Sungguh Ariyani dalam kerisauan dan kebingungan yang tiada kiranya.
“Tuhan sungguh aku rindu menikah” bagitu ucapnya lirih ketika keputuasaan mencari jawaban atas kerisauan dan kebingungan yang dialaminya menghampir.

Em…..mungkinkah ini bagian dari rahasia jodoh? Mungkinkah jodoh Ariyani telah di dekatkan oleh Allah? Dan mungkin Fahmi adalah jodoh Ariyani….?
Sungguh tidak ada yang lebih rahasia dan mengejutkan selain jodoh, maut dan rizeki……
Biarlah waktu yang menjawab…….

Rabu, 18 Maret 2015




………………?
ABSURD
Setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tidak semua hal dapat kita lakukan, tentu semua itu karena keterbatasan ilmu dan keahlian yang kita miliki.
Kelebihan bukanlah sesuatu yang bisa kita sombongkan  dan kekuarangan bukanlah sesuatu yang bisa kita gunakan sebagai alasan untuk berputus asa.
Dengan kelebihan  dan keahlian yang kita miliki, kita berusaha, bekerja untuk mencapai kehidupan yang lebih baik. Dengan kelebihan dan keahlian yang kita miliki, kita berusaha menjadi manusia yang bermanfaat bagi diri sendiri, keluarga dan masyarakat umum.
Dengan kelemahan, kita menjadi manusia yang lebih baik dari hari ke hari. Kelemahan mendorong manusia untuk terus berlajar, kelemahan menyadarkan seseorang bahwa ia tidak bisa hidup sendiri sehingga ia berusaha menjadi pribadi yang ramah, bijaksana dan peduli terhadap sesama.
Hari ini tekadku hampir bulat untuk mengakhiri kisah ini. Tekadku hampir bulat untuk mencari jalan lain, jalan lain yang membuatku tetap bisa berkontribusi bagi mereka yang membutuhkan melalui amanah yang sesuai dengan kemampuan dan keahlianku.
Terasa nelangsa memang, sebab aku telah berputus asa dari belajarku untuk memberbaiki diri dari kekurangan ini.  Sungguh hati  ini belum sekuat besi dan baja yang kuat menahan panas dan tempaan. Ini seperti pembunuhan karakter, aku harus menjadi yang bukan seperti biasanya aku. Aku tahu ini tidaklah buruk….tapi aku masih belum sanggup meskipun aku mengakui dan menyakini hakikat dari kelebihan dan kekurangan sebagimana yang ku ungkap di atas.
Apakah aku ini terlalu pengecut……?
ATAU…………………….
Aku tertalu lemah sebagai seorang pejuang….?
Ketulusan hati yang paling dalam aku berharap Tuhan memberikan jalan terbaik…..
Sebab aku tidak ingin mengecewakan siapapun….
Sebab aku tidak ingin menjadi beban bagi siapapun……
Jika memang masih harus berlanjut biarkan ini berlanjut dengan hadirnya solusi terbaik tapi bila cukup sampai disini maka biarkan ini berakhir dengan baik…..
 Aku berharap keputusan akhir dari cerita ini tidak akan lama, karena belajar dari cerita ini sangat sulit dan menyiksa sebab ini soal kesulitan bukan soal kesempitan…..

“Curahan hati anak pinggiran”
“Pesanku, terus berjuang dan jangan menyerah. Jadilah pribadi yang kuat nan tangguh. Aku berharap dari setiap kesulitan yang ada tidak akan membuatmu  semakin merindukan Tuhan hingga engkau ingin segera bertemu denganNya, sebab aku takut jika kerinduan itu hanya disebabkan engkau tak sanggup lagi menahan luka dan badai gelombang kehidupan.”
“Engkau hanya perlu mengukuhkan lagi rasa percaya dirimu, Tuhan memiliki mkasud nan indah lagi mulia melalu berbagai kesulitan dan kesempitan yang seolah tiada henti menerpamu. Sungguh melalui ujian itu, terlihat betapa tangguhnya engkau, betapa bijaksana dan mulianya hatimu sebagai seorang hamba, hamba sanga pencipta alama semesta dengan segala kuasaNya yang indah nan mulia”

Rabu, 11 Maret 2015






Sobat-sobat yang budiman yuk kita sukseskan program ini. Bersama berpartisipasi mendorong pertumbuhan anak yatim di indonesia yang unggul dan mandiri......

Selasa, 10 Maret 2015



Haruskah Ku Tutup Kisah ini……?
Bagaimana mengatasi lelah ini….
Tiada tempat bagiku untuk berucap akan seisi hati yang senantiasa terbolak-balik oleh rasa bahagia, semangat optimisme, kekecewaan, kesedihan juga kebimbangan selain kepada Engkau wahai Dzat yang telah menciptakan aku.
Ini bukan pertama kalinya dalam hidupku akan hadirnya bisikan-bisikan keputusasaan dan dorongan untuk berhenti sampai disini saja. Tapi pada kenyataannya sungguh tidak semudah itu, meskipun hasrat ingin berhenti telah memuncak, keputusasaan telah berkuasa dalam jiwa namun masih saja selalu ada secuil rasa takut yang menahan kakiku, menahan mulutku untuk berucap, “aku berhenti, aku benar-benar sudah putus asa dengan semua”.
Tuhan….aku selalu ingin Engkau sayang, aku selalu ingin menjadi yang istimewa bagiMu, oleh karenanya selalu saja muncul rasa takut dalam diriku untuk berputus asa dari suatu keadaan atau masalah.
Tapi kali ini Tuhan seolah sudah tak dapat lagi ku temui jalan penyelesaian dari masalah ini. Hingga kini rasa takut itu coba aku lunturkan dengan mengumpulkan keberanian diri untuk berucap maaf dan sesal bahwa aku sudah tak sanggup lagi mengemban amanah ini.
Aku mencintai anak-anak yatim dengan sepenuh hati, air mata mereka air mataku juga, senyum dan tawa mereka adalah senyum dan tawa juga. Aku ingin bisa banyak berkontribusi untuk mereka tap ibukan melalui jalan ini Tuhan, bukan melalui amanah ini.
Aku bukannya bersifat sok tahu, hanya saja jika ini memang ini adalah jalan terbaik bagi mengapa begitu sulit bagiku untuk bergerak, bersemangat melaksanakan amanah ini….?
Sungguh kini ketakutan dan kelinglunganku telah memuncak.
Sisi lain dari belahan hatiku masih terus berbisik pertanyaan, “Bukankah ini terlalu dini bagiku untuk melepas tangan mereka…..?”
Tuhan sungguh bantu aku untuk menyikapi ini semua, jika memang aku harus mengakhirinya maka teguhkanlah hati ini. Buang semua ketakuta-ketakutan dan baying-bayang kesengsaraan antara aku dan anak-anak. Tapi jika ini adalah bagian dari caraMu untuk mendewasakan aku, jika ini adalah cara terbaikMu untuk mematangkan kebijaksanaanku maka tolong jangan buat diriku dikuasai rasa bimbang, kesal dan kecewa.
Jangan pula biarkan diriku dikuasai emosi yang tak terarah. Biarkan bibir ini tetap bisu jika bicara hanya akan membuatku mengucapkan seribu keluhan yang  akan semakin memberatkan jiwaku untuk melakukan tugas mulia ini.
Sungguh Tuhan bantu aku, harus ku tutup kisah ini sampai disini saja atau harus aku pompa lagi semangatku untuk aku melanjutkan jalan ini……….

Senin, 23 Februari 2015



BADAI BELUM BERLALU
Waktu terus saja berlalu, berjalan sesuai dengan kodratnya, tanpa kompromi, tanpa belas kasih.
Hari ini apa yang telah aku capai?
Hari ini apa yang telah kita capai?
Mampukah aku, kita berjalan seiring detik waktu yang terus berlalu?
Waktu tidak akan peduli dengan itu.
Dan sampai dengan hari ini 24 Februari 2015 badai belum berlalu, meskipun hari ini adalah hari baru di tahun yang baru. Gelombang masih saja terus menerjang mengombang-ambingkan pantai hati seorang Ar Royan, yang tidak lain adalah diriku sendiri.
Gelombang masih saja terus mencoba merobohkan keyakinan yang aku pikul sendiri, keyakinan bahwa aku telah berada di lahan yang benar. Keyakinan bahwa saat ini aku telah menanam bibit unggulan yang benar hingga suatu saat nanti tiba masa bagiku untuk menanen panenan yang melimpah lagi mulia.
Tiada hari tanpa kebimbangan, tiada hari tanpa kegelisahan, hati terus bertanya mampukah aku terus menggenggam keyakinan ini?
Sampai pada suatu hari aku menyadari bahwa aku telah menyiksa diriku dengan kebimbangan dan kegelisahan yang sia-sia.
Bila Allah tujuanku, bila Allah alasanku dari setiap pilihan dan tindakanku maka tidak seharusnya aku ragu terhadap diriku sendiri. Aku pasti bisa…! Sebab Allah akan menolongku sebagaimana janjinya, “barang siapa menolong agama Allah, maka Allah akan menolongnya & meneguhkan kedudukannya .” (QS. Muhammad ayat 7).
Meskipun badai belum berlalu, meskipun harus aku tempuhi jalan ini sendiri tapi aku percaya ini akan berakhir dengan indah. Aku percaya dengan cara yang ajaib dan penuh dengan keindahan Allah akan mengirimkan orang-orang mulia untuk membersamaiku di perjuangan ini suatu hari nanti. 

“Hidup ini adalah perlombaan pewaris kebajikan, kemenangan sejati adalah kebahagiaan setelah kematian.”

Sebuah kalimat sederahana yang aku dengar dari seorang penggerak dan pendiri  lembaga philantrhopi itu akan menjelma menjadi seorang sahabat sejati yang akan selalu mendorongku untuk tetap semangat dalam memegang teguh keyakinanku, hingga aku bisa terus berjuang di jalan lahan yang benar dengan bibit unggul yang benar yang telah aku tanam.

Senin, 01 Desember 2014

Tuhan maaf, aku Cengeng

Masalah seolah menjadi teman dalam keseharianku, sedangkan kesendirian seolah menjadi pengiring setia dalam setiap detik waktu yang aku lewati. Tidak terasa, begitu jauh pencapaianku melalui hati yang rapuh dan tak pernah berhenti berharap ini.
Rasa demi rasa hadir di dalam hati dan tak lupa ia meninggalkan bekas, sebelum akhirnya lenyap untuk selamanya. Tidak peduli lebih banyak manakah antara bekas yang menyakitkan dengan bekas yang mengesankan yang tertinggal di hati ini. Semuanya aku terima, aku nikmati, sebab dari bekas-bekas itulah aku bisa belajar tentang kehidupan.
Subkhanallah........hampir enam bulan ini Allah memberiku kesempatan untuk belajar dari sebuah kesempitan dan kepahitan. Bahkan tak jarang, kesempitan dan kepahitan itu belum berlalu dari relung hati yang rapuh ini, kesempitan dan kepahitan baru datang.
Aku coba untuk mensyukurinya, aku coba untuk tetap tersenyum dan berwajah cerah layakya wajah langit baru di esok hari disetiap hari baru yang tiba. Tapi......... akhir-akhir ini semua seolah hilang dari diriku. Semangat, harapan, dan juga kesanggupan diri ini untuk menempuhi jalan Allah yang tak luput dari cobaan dan godaan.
Mulutku sering mengeluarkan keluhan, yang pada akhirnya hanya menambah beban dari kesempitan dan kepahitan yang ada. Otakku mulai sibuk memikirkan keputusasaan yang pada akhirnya melahirkan kebimbangan. Sungguh semua itu justru membuat semua ini semakin berat dan sulit untuk dilalui.
Meskipun di sela-sela keluhan itu terucap istighfar sebagai tanda penyesalan atas lemahnya jiwa ini, namun masih saja air mata sering kali hadir bersama dengan celotehan keluhan dari mulutku.
Tuhan.......saat ini hati dan otakku masih bisa menyadari bahwa  jalan ini tak sepahit jalan orang-orang sebelumku, tidak sepantasnya aku menyerah. Oleh karenanya jangan biarkan diri ini hancur dan hina dalam sebuah keputusasaan.
Maaf  bila aku cengeng, suka mengeluh dan menangis, tapi tolong kuatkan hati ini agar kiranya sanggup untuk melewati kesempitan dan kepahitan yang tidak pernah ku tahu kapan akhirnya.
Maaf bila aku cengeng, namun biarkan aku belajar lebih banyak lagi dari kesempitan dan kepahitan ini. Jangan ada raguMu tentangku, meskipun air mataku mengalir dan hatiku merasakan sakit tetapi aku tetap ingin mengusaikan jalan ini, dengan cara yang Engkau ridhoi.
Tuhan maaf......aku cengeng